Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerdas Cermat Banyak Diminati Pelajar Zaman Dulu;  Menang, Ditraktir Sate oleh Guru Merupakan Kebanggaan  Luar Biasa            

Delima Purnamasari • Minggu, 31 Mei 2026 | 08:09 WIB
(Delima Purnamasari/Radar Jogja)
(Delima Purnamasari/Radar Jogja)

 

JOGJA - Lomba Cerdas Cermat zaman dahulu, khususnya pada saat era Orde Baru, jadi program yang ikonik dan banyak diminati para pelajar.

Format kompetisi ini menguji kecepatan, kecermatan dan ketepatan para siswa dengan materi yang umumnya menekankan pada hafalan. 

Salah satu sosok yang pernah mengikuti kompetisi ini adalah Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid.

Dia menjadi peserta dalam kompetisi Cepat Tepat pada tahun 1992 silam, saat masih menjadi siswa di SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Jogja.

Baca Juga: Pelaku Modus Ngaku Ketua RT, Gasak Pompa Air Milik Kelompok Tani

Motivasinya sederhana, menjalankan kepercayaan yang diberikan sekolah sebaik-baiknya. "Anak SMA saat itu tidak berpikir aneh-aneh," katanya dihubungi, Kamis (28/5). 

Untuk persiapannya dia sebut ada pendampingan dari sekolah lewat guru, bernama Sutardji Daluparti. 

Fathul menilai, sosok guru tersebut begitu tekun mendampingi karena mengetik hampir semua soal yang pernah muncul di acara Cepat Tepat TVRI. 

Pria kelahiran 26 Januari 1974 ini bercerita, soal-soal itu dipelajari karena ada potensi soal yang digunakan sama dan berulang. 

Dia bersama timnya juga memantau perkembangan mutakhir di media massa karena saat itu belum ada media sosial. 

"Kami bertiga latihan rutin selepas pulang sekolah di laboratorium. Tentu masih ada beberapa guru lain yang mendampingi," tambahnya. 

Dalam kompetisi ini dia bersama dua kawannya, Elfi Emilia Zurfiana dan Eva Listya Dewi. Dia masih ingat salah satu pertanyaan di babak rebutan yang berhasil dijawab. 

Pertanyaannya adalah "Apa judul lagu yang dibawakan Ruth Sahanaya pada Midnight Sun Song Festival di Finlandia 1992 yang mengantarkannya menjadi juara pertama untuk penampilan terbaik?" lalu mereka menjawab "Say You Will Always Be Mine" yang merupakan versi bahasa Inggris dari hitsnya "Kaulah Segalanya". "Teman saya pintar-pintar. 

Saya jadi mudah sebagai juru bicara," katanya. 

Baca Juga: Musim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran, Damkarmat Gunungkidul ButuhTambahan Posko dan Armada Tangani Kejadian di Sisi Selatan

Fathul mengaku tak ingat hadiah yang mereka dapatkan usai memenangkan lomba Cepat Tepat ini, karena tidak begitu memikirkannya. 

Hanya saja saat itu mereka ditraktir sate oleh guru dan itu jadi kebahagiaan luar biasa bagi mereka. 

Meskipun SMA Muhammadiyah 1 Jogja yang mereka wakili menang, di babak final itu tidak pernah ditayangkan di TVRI. 

Alasan yang sampai telinganya adalah rekamannya rusak.

 "Kompetisi yang saya ikuti bukan lomba nasional. TVRI Stasiun Jogja hanya mengundang SMA di Jawa Tengah dan DIJ," tambahnya. 

Kompetisi Cerdas Cermat lain yang turut jadi tren pada zaman itu adalah Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir). 

Salah satu yang pernah jadi pesertanya adalah Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Ishadi Zayid sekitar tahun 1983

. Saat itu dia mewakili Kapanewon Prambanan untuk maju dalam kompetisi di tingkat kabupaten.  

"Kelompencapir ini pada zaman Pak Harto adalah cerdas cermat untuk pertanian," katanya. 

Persiapannya ikut serta dalam kompetisi ini adalah belajar dari sejumlah referensi. Termasuk mendengarkan siaran pertanian khusus di radio, membaca koran, hingga melihat televisi. 

Baca Juga: Jaring Talenta Paduan Suara Tampil di Istana Merdeka, Disbud DIY Buka Audisi Gita Bahana Nusantara

Soal yang berikan juga beragam, seperti peternakan, perikanan, hingga perawatan kebun. Kompetisi ini disebut sebagai penunjang dari program ketahanan pangan. 

"Misal dulu ada yang namanya program ayam buras atau bukan ras untuk pemanfaatan lahan," ujarnya. 

 Zayid menilai, ikut serta dalam kompetisi Cerdas Cermat semacam ini memang jadi tren. Mereka yang ikut serta dan bisa menang memang terasa begitu keren.

Saat itu hadiah lombanya juga lumayan, yakni semprotan mesin hingga lampu petromaks.

"Waktu itu Cerdas Cermat jadi salah satu media untuk mengetahui kemampuan masyarakat di dalam bertani," ujarnya. (del/laz) 

Editor : Herpri Kartun
#oldies #Lomba Cerdas Cermat #orde baru