JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini terkait dengan potensi kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut diprediksi terjadi selama periode bulan Juli hingga Oktober tahun ini.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, potensi kekeringan ekstrem itu disebabkan oleh fenomena El Nino. Sehingga memungkinkan penurunan curah hujan signifikan atau kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Reni menyebut, potensi kekeringan sejatinya dapat terjadi mulai bulan Juni. Namun di bulan keenam itu curah hujan. masih berada di kategori atas normal-bawah normal. Sementara untuk bulan Juli hingga Oktober curah hujan seluruhnya berada di kategori bawah normal.
“Sehingga ada kemungkinan kekeringan ekstrem,” ujar Reni dalam keterangannya,” Kamis (28/5/2026).
Baca Juga: Hujan Sedang hingga Lebat Berpotensi Terjadi di Kulon Progo dan Meluas ke Sleman
Menurutnya, durasi musim kemarau tahun ini berkisar antara 16 sampai 18 dasarian. Puncaknya diprediksi pada bulan Agustus dan berakhir di minggu ketiga bulan Oktober hingga awal bulan November.
Selama masa kemarau, pemerintah daerah dan masyarakat diingatkan untuk mempersiapkan langkah antisipatif. Yakni dengan menyesuaikan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen. Terutama di wilayah yang rentan terhadap kekeringan metereologis.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan sistem pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien agar tidak kekurangan air bersih. Serta mengantisipasi potensi yang kerap timbul di musim kemarau seperti kebakaran hutan dan lahan.
“Hal ini berkaitan dengan fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat, setelah pertengahan tahun ada peluang penurunan curah hujan hingga 50-60 persen,” ungkap Reni.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengungkapkan bencana kekeringan kecil kemungkinannya terjadi di Kota Jogja. Meski begitu dia mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Minimnya potensi kekeringan di Kota Jogja disebabkan letak geografis wilayah yang diapit tiga sungai besar. Meliputi Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajahwong. Selain itu mayoritas rumah juga sudah tersambung dengan pipa PDAM dan sumur.
“Masyarakat kami himbau selalu mengoptimalkan pemanfaatan air tersebut dengan bijak,” pesan Nur. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin