JOGJA - Gelaran Beringharjo Great Sale (BGS) yang dilaksanakan oleh Dinas Perdagangan Kota Jogja dari tanggal 15 Desember 2025 hingga 30 April 2026 sukses digelar. Program tersebut mampu mendongkrak transaksi digital di pasar rakyat hingga Rp 60 miliar selama empat bulan pelaksanaan.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, BGS merupakan kolaborasi strategis antara pemerintah kota (pemkot) dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY. Tujuan utamanya mengakselerasi digitalisasi pasar rakyat melalui sistem pembayaran non-tunai.
Ambar menyatakan, penyelenggaraan BGS tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Khusus tahun ini cakupannya tidak hanya di Pasar Beringharjo. Namun juga pasar tradisional lainnya seperti Pasar Kranggan, Pasar Ngasem, Pasar Prawirotaman, dan PASTY (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta).
Baca Juga: Bawa Persija Jakarta Finis di Tiga Besar, Mauricio Souza Tulis Pesan Perpisahan
“Langkah ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Jogja dalam memastikan transformasi digital di pasar rakyat dilakukan secara berkelanjutan dan merata,” ujar Ambar di sela seremonial penutupan BGS di Pasar Beringharjo, Selasa (26/52/2026).
Ambar membeberkan, bahwa dalam pelaksanaan BGS tahun ini pihaknya juga mencatat dampak positif adopsi transaksi non-tunai di pasar rakyat.
Total transaksi mencapai Rp 14,9 miliar per bulan dengan akumulasi mencapai hampir Rp60 miliar selama empat bulan masa penyelenggaraan.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti nyata pergeseran perilaku pedagang dan masyarakat menuju sistem pembayaran yang lebih modern, aman, dan efisien.
Disamping itu beragam aktivitas hiburan juga digelar untuk memperkuat citra pasar sebagai pusat ekonomi dan sosial. Seperti Pustaka Kinasih di Pasar Terban, Dolanan Tradisional di PASTY, dan Pasar Jamu di Pasar Ngasem.
"Aktivitas ini bertujuan mempromosikan fungsi pasar yang lebih luas, tidak hanya sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Jogja Dedi Budiono yang mewakili wali kota menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap seluruh pihak.
Baik itu kepada Dinas Perdagangan, paguyuban pedagang pasar, maupun pengunjung yang sudah meramaikan BGS dan menghidupkan ekosistem pasar rakyat.
Dedi mengungkapkan, kepala daerah menilai program tersebut merupakan langkah strategis memastikan pasar rakyat tetap adaptif di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Enzo Maresca Dikabarkan Telah Tanda Tangani Kontrak Berdurasi Tiga Tahun dengan Manchester City Sebagai Suksesor Pep Guardiola
Melalui penggunaan QRIS dan EDC, pemerintah mendorong pedagang dan pembeli agar lebih terbiasa dengan sistem pembayaran yang praktis, aman, dan tercatat.
Meski terus mendorong transformasi digital, Deddy menegaskan bahwa pasar rakyat harus tetap mempertahankan jati dirinya. Yakni sebagai pusat perekonomian yang ramah dan memiliki ciri khas tersendiri.
“Pasar rakyat adalah nadi ekonomi kota. Ketika kita bicara tentang penguatan pasar, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang penguatan ekonomi masyarakat secara langsung,” tegasnya. (inu)
Editor : Bahana.