JOGJA - Dua dekade setelah gempa bumi melanda DIJ 27 Mei 2006 silam, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIJ menegaskan, proses pemulihan kala itu tidak hanya ditopang oleh pemerintah, tetapi juga keterlibatan aktif dunia usaha dan kekuatan solidaritas masyarakat.
Hal ini mengemuka dalam acara "20 Tahun Refleksi Gempa DIJ" bertema Solidaritas dan Kebersamaan yang digelar Kadin DIJ.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang 1 Kadin DIJ Robby Kusumaharta mengatakan, kala itu sehari setelah gempa terjadi, Kadin DIJ langsung berkoordinasi dengan Pemprov DIJ untuk membantu penanganan darurat hingga pemulihan ekonomi masyarakat.
"Koordinasi dengan pemprov melalui Pak Bayudono selaku kepala Bappeda DIJ saat itu," ujarnya, Selasa (26/5).
Menurutnya, peran dunia usaha saat itu tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat.
Kadin DIJ juga ikut mendampingi pelaku UMKM yang terdampak agar bisa kembali menjalankan usaha dan memulihkan roda ekonomi masyarakat.
"Kadin DIJ turut berperan strategis sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi dan pendampingan UMKM pascagempa," katanya.
Ia menjelaskan, bentuk dukungan yang diberikan meliputi bantuan modal usaha, pelatihan, akses pasar, hingga distribusi logistik melalui jaringan pengusaha.
Bantuan itu, antara lain, berupa tenda pengungsian, air bersih, serta bantuan sandang hasil produksi UMKM lokal.
Robby menilai pengalaman penanganan gempa di DIJ kemudian menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan model mitigasi dan pemulihan bencana di sejumlah daerah lain di Indonesia.
Sementara itu, mantan Kepala Bappeda DIJ Bayudono mengungkapkan, saat itu dirinya mendapat mandat langsung dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X untuk turut serta mengoordinasikan penanganan dan pemulihan pascagempa.
"Saya diberi tugas oleh gubernur untuk mengoordinasi penanganan dan pemulihan pascagempa," kenangnya.
Ia mengatakan, Bappeda DIJ saat itu menyusun rencana aksi pascagempa sekaligus profil kebencanaan sebagai upaya pengurangan risiko bencana di DIJ.
Dalam sesi refleksi, sejumlah relawan turut membagikan pengalaman selama masa tanggap darurat dan pemulihan.
Dari diskusi itu muncul kesimpulan bahwa proses kebangkitan DIJ berlangsung relatif cepat karena kuatnya sinergi lintas sektor.
Selain itu, tingginya modal sosial masyarakat DIJ juga dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan.
Nilai gotong royong, kepercayaan sosial, dan solidaritas masyarakat menjadi kekuatan utama saat menghadapi situasi krisis.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Bidang Kominfodigi Kadin DIJ Y. Sri Susilo mengatakan, adanya refleksi 20 tahun gempa bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga menjaga semangat kebersamaan yang pernah menguat di tengah bencana.
"Spirit kebersamaan yang muncul saat gempa 2006 harus tetap dirawat.
Jogja bisa bangkit waktu itu karena semua bergerak bersama tanpa melihat latar belakang," ujar Sri Susilo.
Menurutnya, pengalaman gempa 2006 menunjukkan bahwa ketahanan daerah tidak hanya ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, tetapi juga kekuatan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun