Paku Alam X Lepas IWFP 2026 di Jogja, Tegaskan Indonesia Dirawat dengan Dialog dan Kepercayaan
Fahmi Fahriza• Selasa, 26 Mei 2026 | 20:15 WIB
Rombongan Bhikkhu Thudong saat dijamu Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X di Kepatihan Pakualaman Selasa (26/5). (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
JOGJA - Rombongan Bhikkhu Thudong dalam agenda Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 tiba di Kompleks Kepatihan Pakualaman, Jogja, Selasa (26/5) sore sekitar pukul 15.45 WIB. Kedatangan para bhikkhu disambut dalam seremoni bersama Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X.
Sebanyak 57 Bhikkhu dari empat negara mengikuti perjalanan spiritual lintas provinsi tersebut sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Waisak 2026 di Candi Borobudur. Mereka memulai perjalanan sejak 9 Mei 2026 dari Bali, dan dijadwalkan tiba di Borobudur pada 28 Mei mendatang.
Ketua Panitia IWFP 2026 DIY Romo Adhiviryo Alex Fernando mengatakan, bahwa perjalanan para bhikkhu membawa pesan perdamaian dan toleransi lintas bangsa serta lintas agama. "Perjalanan para Bhikkhu ini dilakukan dengan membawa misi perdamaian dan toleransi," ujarnya.
Secara garis besar, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ beserta unsur TNI dan Polri yang telah memberikan dukungan selama kegiatan berlangsung di Jogjakarta.
"Terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah ikut berpartisipasi menyukseskan acara ini dengan penyambutan, penerimaan, dan jamuan yang sangat luar biasa," katanya.
Sementara itu, Paku Alam X menilai, perjalanan para Bhikkhu Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan laku spiritual yang sarat makna tentang perdamaian dan kemanusiaan. "Hari ini kita menjadi saksi sebuah laku yang berbicara lebih dalam daripada kata-kata, yakni laku berjalan, laku menahan diri, dan laku merawat harapan," ucapnya.
Menurutnya, IWFP menjadi pengingat bahwa perdamaian harus dibangun bersama melalui kesabaran, penghormatan, dan empati antarsesama.
"IWFP ini mengingatkan kita bahwa perdamaian itu jalan yang harus ditempuh bersama, langkah demi langkah, dengan kesabaran, penghormatan, dan keberanian untuk melihat sesama manusia sebagai saudara sebangsa," katanya.
Ia menambahkan, tema Walk for Peace tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga metafora kebangsaan yang mengajak masyarakat memperpanjang ruang dialog dan memperkuat rasa saling percaya.
"Bangsa ini tidak dapat dirawat dengan kegaduhan semata, tetapi dengan ketekunan membangun saling percaya," tegasnya.
Paku Alam X juga menyebut Jogjakarta atau DIY memiliki sejarah panjang dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman budaya dan keyakinan.
"Jogja adalah ruang budaya yang sejak lama belajar merawat harmoni antara tradisi dan perubahan, antara iman dan ilmu, antara akar lokal dan cakrawala universal," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyinggung Borobudur sebagai simbol perjalanan batin manusia menuju kebijaksanaan dan welas asih.
"Borobudur adalah monumen perjalanan batin manusia, dari kegelapan menuju pencerahan, dari keterikatan menuju kebijaksanaan, dari ego menuju welas asih," katanya.
Sebelumnya, rombongan Bhikkhu Thudong IWFP 2026 juga disambut hangat di Jogja sebagai salah satu titik persinggahan utama dalam perjalanan menuju Borobudur. Para bhikkhu diketahui menempuh perjalanan sekitar 30 hingga 40 kilometer setiap hari selama delapan hingga sepuluh jam berjalan kaki.
Para Bhikkhu Thudong direncanakan masih akan bermalam di Jogja sebelum melanjutkan perjalanan menuju Magelang dan Candi Borobudur pada Rabu (27/5) pagi. (iza)