JOGJA - Umat Buddha di DIY mengikuti tradisi Pindapata di sepanjang Jalan Malioboro Selasa (26/5). Mereka memberikan persembahan makanan kepada para Biksu atau Bhikkhu yang tengah menjalankan pertapaan atau Thudong.
Jasmiko, umat Buddha asal Kota Jogja menyebut, Pindapata merupakan cara umat untuk berbakti kepada Sangha. Tradisi ini juga bukan hanya sekadar memberi. Namun juga sebagai sarana latihan bagi umat untuk belajar melepas kelekatan pada harta benda.
Baca Juga: Perkuat Integrasi Akademik Tingkat ASEAN, Tandatangani MoU Among Academic Partners
“Ini adalah bentuk cara berbagi. Kita belajar untuk melepas harta tersebut sebagai bentuk pelatihan diri," ujar Jasmiko di sela acara.
Dia pun berharap, perayaan Waisak tahun ini dapat menggemakan pesan perdamaian dunia di tengah situasi global. Jasmiko juga berpesan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga bumi dan tidak mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.
Menurutnya, tradisi Pindapata juga mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan komunitas lintas agama di Jogjakarta. Hal tersebut menjadi cerminan semangat toleransi dan gotong royong yang kuat di DIY.
“Perdamaian dunia ini harus dijaga dan dirawat baik-baik, karena bumi kita cuma satu,” tegas Jasmiko.
Umat Buddha lainnya Sherly yang hadir turut memberikan makanan kering. Seperti seperti biskuit, mi instan, telur rebus, dan minuman kepada para biksu.
Menjelang perayaan Waisak tahun ini, Sherly memiliki harapan khusus bagi bangsa dan dunia untuk terus berdamai dan berbahagia. "Semoga semua makhluk berbahagia dan negara kita menjadi lebih baik lagi," harapnya.
Setelah singgah di DIY, para Bhikkhu akan melanjutkan perjalanan menucu Candi Borobudur, Magelang Rabu (27/5) pagi. Mereka dijadwalkai sampai di lokasi Kamis (28/5). (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita