Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Refleksi Dua Dekade Gempa Jogja, Ahli Geologi UPN Soroti Risiko Tata Ruang dan Bangunan Rentan

Fahmi Fahriza • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:27 WIB
Prof  Dr Ir  Eko Teguh Paripurno Dok. Pribadi
Prof Dr Ir Eko Teguh Paripurno Dok. Pribadi

 

JOGJA - Dua dekade setelah gempa bumi besar mengguncang DIJ pada 27 Mei 2006, kajian geologi terbaru menunjukkan bahwa sumber gempa tersebut jauh lebih kompleks dibanding pemahaman awal mengenai Sesar Opak.

Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi, Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta Prof Dr Ir Eko Teguh Paripurno menjelaskan, Sesar Opak bukan sekadar satu garis patahan tunggal.

 Melainkan sistem sesar aktif yang memiliki banyak segmen dan cabang tersembunyi.

Baca Juga: Perkuat Integrasi Akademik Tingkat ASEAN, Tandatangani MoU Among Academic Partners

Ia menerangkan, Sesar Opak adalah sesar aktif darat dengan mekanisme pergerakan didominasi oleh geseran mendatar (strike-slip) dengan sedikit komponen vertikal (oblique).  

"Sesar ini bukan tunggal, tapi sistem sesar paralel sejajar Sungai Opak. Membentang dari muara Sungai Opak di selatan hingga ke arah Prambanan di timur laut," ujar Eko, Senin (25/5).

Menurutnya, sistem sesar tersebut menjadi batas geologi penting antara dataran aluvial Jogjakarta di bagian barat dengan kawasan batuan karbonat Pegunungan Selatan di timur.

Pada gempa tahun 2006, sistem sesar itu melepaskan akumulasi energi besar akibat tekanan lempeng Indo-Australia dari selatan Jawa.

"Guncangannya memicu robekan bawah tanah yang jalurnya paralel dengan lembah Sungai Opak," katanya.

Baca Juga: Gempa Dahsyat Dua Dasawarsa lalu Masih Teringat Jelas bagi Penghuni Rumah Domes Prambanan Sleman

Namun, riset-riset terbaru justru menunjukkan bahwa pusat robekan utama gempa 2006 tidak tepat berada di jalur permukaan Sesar Opak yang selama ini dikenal masyarakat.

"Kajian seismologi, GPS kontinu, dan distribusi gempa susulan menunjukkan episentrum dan robekan utama gempa 2006 bergeser beberapa kilometer ke arah timur, di bawah perbukitan struktural Prambanan-Bantul," jelasnya.

Ia menyebut banyak ahli kini mengidentifikasi keberadaan blind fault atau sesar tersembunyi yang tertutup endapan tanah sehingga tidak tampak di permukaan. 

"Secara regional kita masih menyebutnya bagian dari Sistem Sesar Opak. Tetapi strukturnya jauh lebih kompleks dan bercabang, bukan sekadar satu garis lurus tunggal," ujarnya.

Eko menilai salah satu faktor yang membuat gempa 2006 sangat destruktif ialah kedalaman sumber gempa yang sangat dangkal, sekitar 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Akibatnya, energi guncangan mencapai permukaan tanpa banyak mengalami pelemahan.

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Gempa Dahsyat Bantul, Pelajaran Apa dari Peristiwa ini? Pemkab Perkuat Mitigasi Bencana, Brandingnya Siap untuk Selamat

Selain itu, jalur patahan juga melintasi kawasan padat penduduk seperti Bantul, Sleman, Kota Jogja hingga Klaten. 

Pada saat bersamaan, mayoritas rumah warga ketika itu juga masih menggunakan konstruksi bata tanpa penguatan beton bertulang. 

"Mayoritas rumah saat itu merupakan unreinforced masonry yang langsung runtuh saat menerima gelombang geser," jelasnya.

Dari sisi geologi, Eko menjelaskan wilayah Jogjakarta memiliki karakter sedimen muda yang memperkuat guncangan gempa. Kondisi itu dikenal sebagai site amplification atau amplifikasi situs.

"Wilayah Bantul dan sekitarnya berdiri di atas Cekungan Jogja yang diisi endapan sedimen muda hasil erupsi Gunung Merapi. Ketika gelombang gempa masuk dari batuan keras menuju sedimen longgar, amplitudonya melonjak drastis," jelasnya.

Fenomena itu menyebabkan guncangan terasa lebih kuat dan memicu kerusakan masif. Bahkan di sejumlah lokasi memunculkan likuefaksi skala kecil akibat muka air tanah yang dangkal.

Pasca-gempa 2006, riset geologi di Jogja berkembang pesat melalui penggunaan berbagai teknologi pencitraan bawah permukaan seperti metode gravitasi, mikrotremor, magnetotelurik hingga seismik refleksi.

"Pemetaan multi-metode berhasil mengidentifikasi bahwa Sesar Opak memiliki beberapa segmen aktif tersembunyi," kata Eko.

Selain itu, pemasangan stasiun GPS kontinu juga menunjukkan kawasan Jogjakarta masih terus mengalami akumulasi regangan tektonik beberapa milimeter per tahun.

Penelitian terbaru bahkan mulai mengidentifikasi keberadaan sesar lain seperti Sesar Mataram dan sejumlah patahan minor di wilayah utara serta barat Jogja.

Baca Juga: Berkendara Sambil Bawa Celurit, Dua Pelajar Anggota GB Mistery-Allstar Kebumen Diamankan Polisi

Meski segmen yang memicu gempa 2006 kemungkinan membutuhkan waktu lama untuk kembali melepaskan energi besar, Eko menegaskan ancaman gempa di Jogja tetap nyata.

"Tektonik lempeng di selatan Jawa tidak pernah berhenti bergerak. Sistem Sesar Opak saat ini terus mengumpulkan energi kembali," ujarnya.

Ia menambahkan, karakter gempa sesar darat seperti di Jogja sangat sulit diprediksi secara pasti, karena siklus perulangannya dapat mencapai ratusan hingga ribuan tahun.

"Pendekatan terbaik bukan menebak kapan gempa terjadi, tetapi berasumsi bahwa gempa bisa terjadi kapan saja," tegasnya.

Terkait kesiapan pemantauan, Eko menyebut sistem monitoring gempa saat ini jauh lebih baik dibanding dua dekade lalu.

 Jaringan sensor seismograf dan GPS deformasi milik BMKG maupun perguruan tinggi telah diperluas sehingga aktivitas mikro-seismik dapat terdeteksi secara real time.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa deteksi mikro-seismik bukan alat prediksi pasti gempa besar.

"Mikro-seismik adalah alat untuk memetakan retakan aktif dan wilayah yang sedang mengunci, bukan alarm kepastian gempa besar," terangnya.

Di sisi lain, Eko menyoroti masih lemahnya disiplin tata ruang dan standar bangunan tahan gempa di Jogja hingga hari ini. Ia menilai pembangunan pasca-2006 masih dibayangi amnesia bencana, terutama pada pembangunan rumah mandiri masyarakat dan okupasi kawasan rawan sesar.

Lebih lanjut pengawasan implementasi standar bangunan tahan gempa pada rumah-rumah warga juga masih longgar.

Baca Juga: Kejar Target, Pembayaran UGR Tol Jogja-YIA di Kalurahan Kaliagung Kulon Progo Dilaksanakan Hingga Malam Hari

 

"Di beberapa wilayah juga kembali terjadi kepadatan pembangunan di zona rawan amplifikasi tanah tinggi tanpa rekayasa fondasi yang memadai," ujarnya.

Ia pun meminta pemerintah daerah konsisten menegakkan tata ruang berbasis mitigasi bencana serta memperkuat pengelolaan risiko berbasis komunitas agar masyarakat menjadi subjek utama dalam kesiapsiagaan menghadapi ancaman geologi.

Eko menegaskan korban terbesar dalam bencana gempa sebenarnya bukan disebabkan gempa itu sendiri, melainkan ketidaksiapan manusia menghadapi risiko.

 "Bukan gempa bumi yang membunuh, melainkan bangunan yang tidak ramah gempa dan ketidaksiapan struktural kita," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#insight #gempa jogja