JOGJA - Fenomena kejahatan jalanan (klithih) yang melibatkan geng pelajar sekolah menjadi atensi legislatif. DPRD Kota Jogja mendesak pemkot segera melakukan kajian untuk menelisik akar permasalahan itu.
Wakil Ketua I DPRD Kota Jogja Sinarbiyat Nujanat mengatakan, dalam mengatasi permasalahan geng pelajar pemkot tidak boleh hanya fokus pada program pembinaan terhadap pelaku saja. Namun harus ditelusuri pula latar belakang para remaja terjerumus dalam aksi kenakalan yang menjurus tindak kejahatan itu.
Sinarbiyat menilai, selama ini pemkot belum pernah melakukan kajian mendalam menelusuri akar permasalahan klithih. Hal tersebut yang kemudian membuat kasus kejahatan jalanan dengan pelaku anak-anak usia sekolah itu sering timbul tenggelam.
"Kita semua belum pernah mengkaji secara mendalam di mana sebenarnya akar persoalan dari kenakalan remaja di jalanan ini,” ujar Sinarbiyat saat dikonfirmasi, Minggu (24/5).
Dalam pandangannya, politisi Partai Gerindra ini menyebut banyak aspek yang harus dicermati dalam fenomena kejahatan jalanan. Bisa saja para remaja terdorong melakukan kenakalan karena memiliki permasalahan di keluarganya.
Kemudian bisa karena faktor lingkungan, sekolah, atau bahkan memang pribadinya yang bermasalah. Oleh karena itu, Sinarbiyat menilai kajian tentang penanganan masalah kenakalan remaja perlu segera dilakukan.
Dengan itu bisa diputuskan, tindakan yang paling tepat sasaran. Misal apakah perlu tindakan tegas terukur terhadap pelakunya supaya memberi efek jera atau hanya cukup diberi pembinaan saja. Supaya masalah ini tidak terus bermunculan setiap saat.
"Penyelesaiannya selama ini hanya sebatas pelaku kriminal ditangkap, diselesaikan di kepolisian, lalu selesai begitu saja. Padahal, ini harus diurai kasus per kasus,” tegas Sinarbiyat.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan komitmennya untuk menelusuri penyebab maraknya kasus kenakalan remaja. Pemkot berencana menerapkan pendekatan sosiologis untuk menelusuri underlying problem atau akar masalah dari setiap pelajar berisiko.
Hasto mengungkapkan, dari hasil penelusuran di lapangan para pelajar yang terlibat kenakalan kerap ditemukan terjebak dalam masalah personal. Contohnya hidup di tengah kondisi keluarga yang tidak harmonis atau broken home.
Mantan bupati Kulon Progo ini menyebut aktivitas geng pelajar di Kota Jogja lebih dominan di kalangan anak-anak SMA. Namun dengan kondisi itu justru pihaknya akan menjadikan jenjang SMP sebagai titik krusial pencegahan.
Termasuk melakukan identifikasi terhadap siswa-siswi yang beresiko terjerumus dalam geng. “Ini harus kita urai, karena masing-masing fenomena (kejahatan jalanan) ini beda sebabnya,” terang Hasto. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun