Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Banyak Libut Panjang, Okupansi Hotel selama Mei Belum Penuhi Target PHRI DIY

Fahmi Fahriza • Sabtu, 23 Mei 2026 | 20:30 WIB
JADI JUJUKAN: Wisatawan saat memadati kawasan Malioboro, Kota Jogja. Selama libur Nataru, pengunjung lebih memilih objek wisata di Taman Pintar hingga Kedhaton.
JADI JUJUKAN: Wisatawan saat memadati kawasan Malioboro, Kota Jogja. Selama libur Nataru, pengunjung lebih memilih objek wisata di Taman Pintar hingga Kedhaton.

JOGJA - Deretan momentum long weekend sepanjang Mei 2026 mulai mendorong peningkatan tingkat hunian hotel di DIY. Namun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyebut kenaikan okupansi tersebut masih belum mampu memenuhi target industri perhotelan. 

Sepanjang Mei 2026, terdapat beberapa momentum libur panjang. Mulai Hari Buruh Internasional pada 1 Mei, libur Kenaikan Isa Almasih pada 14-17 Mei 2026, hingga libur Idul Adha dan cuti bersama pada 27-31 Mei 2026 mendatang.

Baca Juga: Irvan Hidayat Putro, Kisah Kesetiaan Suporter Disabilitas PSS Sleman; Dari Gendongan sang Ayah hingga Kawal Kembali ke Kasta Tertinggi

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono memaparkan, bahwa tingkat keterisian atau okupansi hotel selama Mei 2026 rata-rata berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Angka tersebut meningkat dibanding April 2026 yang hanya mencapai 60 hingga 70 persen.

"Kalau ditanya apakah ada peningkatan okupansi, jawabannya ada, tapi tidak signifikan. Sampai memenuhi target, menurut perhitungan ini juga belum," kata Deddy, Sabtu (23/5).

Menurutnya, PHRI DIY sebenarnya menargetkan tingkat hunian hotel selama Mei dapat menyentuh angka 85 persen, terutama karena bulan ini dipenuhi beberapa momentum libur panjang yang biasanya mendongkrak kunjungan wisatawan ke Jogja.

Baca Juga: Perkuat Literasi Finansial Berbasis Budaya, HB X: Uang Jangan Jadi Tujuan Akhir

"Target kita hanya 85 persen, saat ini baru tercapai 70 sampai 80 persen," ujarnya.

Deddy menjelaskan, peningkatan okupansi hotel tetap tertahan oleh melemahnya daya beli masyarakat dan semakin banyaknya alternatif akomodasi non-hotel yang berkembang di DIY. "Satu, daya beli masyarakat turun. Lalu banyak alternatif akomodasi yang ada di DIY. Contoh vila-vila, homestay, dan kos-kosan harian, itu juga mengurangi okupansi yang ada di hotel anggota PHRI," katanya.

 

Secara pribadi ia menilai kondisi tersebut membuat persaingan industri akomodasi di Jogja semakin ketat, terutama bagi hotel-hotel anggota PHRI.

 

Meski begitu, Deddy menyebut sektor perhotelan DIY masih terbantu oleh tingginya kunjungan wisata keluarga selama musim liburan. Menurutnya, wisatawan keluarga masih menjadikan Jogja sebagai destinasi favorit karena memiliki ragam pilihan wisata dalam satu wilayah. "Sekarang fenomena banyak wisatawan keluarga yang menikmati Jogja. Alasannya satu daerah mempunyai objek wisata yang lengkap. Ada gunung, pantai, budaya, dan sebagainya," ujarnya.

 

Selain wisata domestik, PHRI DIY juga mencatat adanya peningkatan tamu mancanegara dari China dan Jepang yang menginap di hotel-hotel DIY. Sementara wisatawan asal Eropa justru mengalami penurunan, salah satunya dipengaruhi tingginya harga tiket pesawat. "Eropa menurun, tapi wisatawan dari China cukup bagus dan Jepang juga cukup bagus," kata Deddy.

Di sisi lain, PHRI DIY menilai berbagai event berskala nasional maupun internasional mulai memberi dampak positif terhadap tingkat hunian hotel dan perputaran ekonomi daerah. Tren sport tourism seperti ajang lari dan padel disebut cukup membantu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jogja.

"Apa pun event-nya yang sifatnya nasional dan internasional pasti akan berdampak dengan tingkat hunian dan multiplier effect ekonomi rakyat akan berjalan," ulasnya. (iza)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tingkat hunian hotel #phri diy #Libur Panjang #okupansi hotel #Wisatawan