JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY terus mendorong optimalisasi sistem transportasi terintegrasi. Salah satunya melalui pemanfaatan kawasan park and ride di Maguwoharjo.
Wisatawan bisa memarkir kendaraan di area parkir Bandara Adisutjipto. Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api maupun Trans Jogja menuju kawasan Kota Jogja. "Ini di Maguwo yang menggunakan malah anak-anak muda. Mereka parkirnya di Maguwo, lalu naik kereta api nanti balik lagi ke situ," ungkap Kepala Dishub DIY Chrestina Erni Widyastuti Sabtu (23/2).
Erni menyebut, pola tersebut mulai diminati wisatawan luar daerah, terutama kendaraan berpelat AD dari wilayah Solo dan sekitarnya. Hal ini pun bisa menekan lonjakan kendaraan yang masuk area kota. Khususnya selama libur panjang.
Sementara untuk long weekend Idul Adha, Dishub DIY memperkirakan lonjakan wisatawan akan kembali terjadi seperti pada libur panjang pekan sebelumnya. Hanya saja, dia belum bisa memastikan untuk perkiraan angkanya. "Tapi intinya ada lonjakan," kata Erni.
Mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas, Erni mengaku sudah melakukan koordinasi dengan dishub kabupaten/kota. Harapannya, kendaraan tidak akan menumpuk di kawasan tertentu seperti Jalan Malioboro.
Nantinya, bus wisata yang masuk wilayah kota juga akan dibatasi. Penjagaan oleh petugas di sejumlah titik strategis akan dilakukan. “Kalau dulu penjagaan di Tugu, kita juga ke Gardu Aniem karena dua titik ini adalah krusial," ujarnya.
Erni menjelaskan, pembatasan tersebut dilakukan lantaran kapasitas parkir di pusat Kota Jogja semakin terbatas. Sementara volume kendaraan wisata terus meningkat saat long weekend. "Karena cukup crowded, tempat parkirnya juga nggak ada. Kantong parkirnya juga terbatas, itu jadi kendala buat kita," katanya.
Sebelumnya, Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyebut, masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi karena akses menuju transportasi publik yang belum memadai. Hal ini pun terjadi pada layanan pengumpan atau feeder di DIY. "Kalau kita bicara ini feeder, di Jogja belum ada feeder. Jadi masih layanan utamanya ya Trans Jogja," ujarnya.
Saat ini, penggunaan kendaraan pribadi di DIY disebut masih mencapai sekitar 80 persen. Berkontribusi pada kemacetan di berbagai koridor utama perkotaan.
Ni Made menambahkan, bahwa upaya mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik juga terbentur pada faktor kenyamanan dan waktu tempuh. "Kalau saya harus menunggu 50 menit untuk menunggu ada transportasi umum, ya kan enggak mungkin," katanya menganalogikan. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita