JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono X membentuk tim khusus untuk mengidentifikasi akar persoalan munculnya kembali kasus kekerasan remaja dan kekerasan jalanan di wilayah Jogjakarta.
Ini menyusul kasus terbaru, pembunuhan seorang pelajar di kawasan Kotabaru atau Stadion Kridosono yang dipicu aksi saling tantang antargeng pelajar.
HB X mengatakan, Pemprov DIY sendiri saat ini masih mendalami motif di balik kembali munculnya kasus kekerasan jalanan, setelah sebelumnya sempat mereda selama beberapa bulan terakhir.
"Sekarang kita sedang melakukan identifikasi. Karena selama ini klithih sekian bulan tidak ada, kenapa ada lagi?
Kita nggak tahu persis kondisi ekonomi, atau memang kenakalan biasa, kita nggak tahu. Ya, kita sedang mencoba mengidentifikasi," katanya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, proses identifikasi mendalam perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab utama munculnya kembali aksi kekerasan remaja di DIY.
Sebab, sebelumnya upaya pengamanan berbasis masyarakat sempat dilakukan untuk menjaga keamanan lingkungan.
"Dulu kan sempat dilakukan reresik warga untuk bisa menjaga keamanan di warganya, kan gitu.
Tapi sekarang kok timbul lagi. Motifnya apa kita kan perlu identifikasi, dalami itu dulu. Tapi belum ada report dari tim," ujar bapak lima puteri yang juga raja Keraon Jogja ini.
Lebih lanjut ia menegaskan, proses identifikasi juga tidak hanya melibatkan aparat kepolisian, tetapi juga memperhatikan faktor lingkungan sosial dan masyarakat sekitar.
"Kita sudah bentuk tim. Tim itu sudah bekerja mencoba mengidentifikasi, tapi kan tidak sesederhana itu.
Tidak sekadar dengan polisi, tapi juga lingkungan, masyarakat, dan sebagainya. Apa yang sebetulnya terjadi," paparnya.
Secara garis besar, HB X mengaku belum ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab utama kasus ini, sebelum hasil identifikasi selesai dilakukan.
Ia menyebut kemungkinan faktor yang melatarbelakangi bisa beragam.
"Apakah kenakalan biasa atau memang seniornya itu yang membina. Kita kan nggak tahu semua seperti itu. Jangan sampai keliru," ucapnya.
Sebelumnya, Kapolresta Jogja Kombes Pol Eva Guna Pandia menyebut, peristiwa berdarah di Kotabaru itu diduga dipicu aksi saling tantang antargeng pelajar dan bukan aksi klithih ataupun street crime.
Dalam kasus ini, seorang pelajar berinisial AA (18) meninggal dunia usai dibacok menggunakan senjata tajam jenis cerurit, Minggu (17/5/2026) dini hari.
Polisi sendiri telah menangkap tiga orang, sementara tiga pelaku lainnya yang disinyalir juga terlibat saat ini masih dalam pengejaran. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun