JOGJA - Fenomena geng pelajar kembali menjadi atensi bagi Pemkot Jogja. Wali Kota Hasto Wardoyo mengaku sudah mengantongi dua nama geng pelajar yang sampai saat ini masih aktif melakukan rekrutmen anggota baru.
Hasto mengatakan, nama dua geng pelajar itu masih dirahasiakan demi penanganan di lapangan.
Namun yang pasti, aktifnya dua geng tersebut disebabkan pengaruh dari alumni yang terus mendorong untuk melakukan regenerasi.
“Ada dua geng yang kita tengarai aktif merekrut anggota, kemudian juga dipengaruhi oleh senior-seniornya.
Tapi ini sifatnya masih kita rahasiakan,” ujar Hasto di Taman Budaya Embung Giwangan, Kamis (21/5).
Baca Juga: Jadwal Pekan Pamungkas BRI Super League, Arema FC vs PSIM Jogja Sebagai Laga Pembuka
Menurutnya, geng pelajar yang masih aktif itu memiliki latar belakang dari sekolah jenjang atas seperti SMA atau SMK.
Sehingga langkah yang dilakukan pemkot saat ini adalah mencegah agar pelajar SMP berafiliasi atau bergabung dengan geng ketika lulus.
Hasto menilai, intervensi sejak dini merupakan cara paling efektif untuk memutus rantai regenerasi geng yang kerap berujung pada aksi kriminalitas.
Namun perlu dilakukan juga kolaborasi dengan aparat penegak hukum seperti kepolisian, TNI serta warga untuk ikut menjaga keamanan.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, pelajar yang ikut sebagai anggota geng biasanya memiliki latar belakang bermasalah.
Misalnya berasal dari keluarga broken home. Oleh karena itu, identifikasi sejak masa pendidikan SMP perlu dilakukan.
“Saya kira SLTP ini tempat strategis untuk mencegah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori menyatakan, pihaknya memiliki Jembatan Persahabatan.
Sebuah program yang mengumpulkan para pelajar dengan energi berlebih untuk diarahkan melakukan berbagai kegiatan positif oleh sekolah.
Meskipun diakui fenomena kelompok remaja dipengaruhi oleh banyak faktor di luar lingkungan sekolah.
Budi menilai, dalam hal pencegahan geng pelajar sekolah memiliki peran vital untuk memperbaiki pendidikan karakter anak-anak.
Di samping itu, peran kewilayahan seperti tokoh masyarakat dan kelurahan juga penting untuk mencegah konflik antargeng pecah.
Lantaran perselisihan antargeng sekolah biasanya terjadi di luar jam belajar.
"Di Jogja itu kan ada yang namanya Jam Belajar Masyarakat (JBM). Itu sebetulnya bagaimana meningkatkan kepedulian masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan anak,” beber mantan sekretaris Dindikpora Kota Jogja itu. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun