JOGJA - Aksi perselisihan antargeng yang menimbulkan korban jiwa seorang pelajar bernama Adelio Alvis Adhi Wijaya, 17, di Kawasan Kotabaru, menjadi atensi kepala daerah. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mencanangkan program deteksi dini guna mengantisipasi kasus serupa kembali terulang.
Hasto mengaku sangat prihatin sekaligus turut berbela sungkawa terhadap keluarga korban. Menurutnya, kasus ini bisa terjadi karena lemahnya pengawasan terhadap remaja. Sebab terjadi sekitar pukul 04.00 dini hari yang merupakan jam tidak lazim bagi anak usia sekolah untuk beraktivitas.
Baca Juga: Polisi Sebut Tragedi Berdarah di Kotabaru Didasari Perselisihan Antar Geng Pelajar
"Saya berharap orang tua lebih hati-hati. Jangan biarkan anak-anak kita berada di jalanan pada jam-jam tersebut,” ujar Hasto kepada wartawan di sela peresmian Gedung Baru Kelurahan Tegalpanggung, Danurejan, Senin (18/5).
Mengantisipasi kasus kembali terulang, mantan bupati Kulon Progo ini mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi jangka panjang. Misalnya dengan melakukan intervensi sejak dini pada anak-anak usia sekolah agar tidak bergabung dalam geng atau melakukan tindak kejahatan jalanan (klithih).
Baca Juga: Orang Tua Harus Tahu! Bahasa Inggris Akan Wajib Pada Sekolah Dasar Mulai Tahun Ajaran 2027/2028
Hasto menuturkan sudah mengeluarkan instruksi kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, para kepala sekolah, dan guru bimbingan konseling untuk melakukan deteksi dini. Upayanya dengan mengidentifikasi siswa yang menunjukkan indikasi awal gangguan psikologis pemicu perilaku agresif.
Kemudian, Pemkot Jogja juga akan mengumpulkan guru-guru bimbingan konseling agar menjadi garda terdepan memetakan perilaku siswa di sekolah. Selain itu juga disiapkan psikolog dan psikiater di fasilitas kesehatan seperti puskemas dan rumah sakit. Sehingga siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut bisa ditangani berdasarkan rujukan sekolah.
"Anak-anak yang berisiko biasanya sudah bisa diketahui sejak dini. Kita perkuat mitigasinya dengan menambah psikolog dan psikiater di faskes kita," jelas Hasto.
Baca Juga: Ke Tanah Suci melalui Embarkasi YIA, Pemberangkatan CJH Purworejo Tersisa Dua Kloter
Sebagaimana diberitakan, pada Minggu (17/5) dini hari seorang pelajar menjadi korban pembacokan di kawasan Kotabaru. Kapolresta Jogja Kombes Pol Eva Guna Pandia menyebut peristiwa itu berawal dari aksi saling tantang antara geng korban dengan pelaku.
Eva menyebut pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap pelaku pembacokan. Polisi diketahui juga sudah memeriksa salah satu rekan korban yang menjadi saksi mata peristiwa ini. Berdasarkan pemeriksaan awal, korban diserang menggunakan celurit.
Korban mengalami luka sabetan pada beberapa titik anggota tubuh seperti kepala, dada, hingga bagian perut. "Kami tegaskan sekali lagi ini bukan klithih ataupun street crime, tetapi ini tantang-tantangan antargeng pelajar," tegas Eva. (inu/laz)