JOGJA - Potensi gempa megathrust di Indonesia kembali menjadi perhatian, seiring posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan lempeng tektonik aktif dunia. Kondisi ini menjadikan wilayah Indonesia rentan terhadap gempa besar yang dapat disertai tsunami.
Pakar gempa dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Gayatri Indah Marliyani ST MSc PhD menjelaskan, gempa megathrust merupakan gempa besar yang terjadi di zona subduksi, yakni batas pertemuan lempeng tektonik di dasar laut.
"Gempa megathrust terjadi pada batas zona subduksi dan biasanya memiliki magnitudo sangat besar. Bahkan bisa lebih dari M9 dan berpotensi menimbulkan tsunami," ujarnya, Sabtu (25/4).
Baca Juga: Gempa Megathrust Berpotensi di Wilayah DIY, Warga Kulon Progo Dihantui Rasa Takut
Secara global, gempa jenis ini termasuk yang paling kuat dan merusak. Beberapa contoh besar di dunia, antara lain, gempa dan tsunami Tōhoku 2011 di Jepang dan gempa Valdivia 1960 yang tercatat sebagai gempa terbesar dalam sejarah modern.
Di Indonesia, peristiwa gempa dan tsunami Aceh 2004 menjadi bukti nyata besarnya dampak gempa megathrust. Bencana itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga kerusakan luas di wilayah pesisir.
Gayatri menegaskan, berdasarkan kajian geologi, gempa megathrust merupakan fenomena yang berulang dalam jangka waktu panjang, meski tidak memiliki pola waktu yang pasti. "Dari bukti geologi, gempa Megathrust seperti yang terjadi di Aceh tahun 2004 juga pernah terjadi di masa lampau," jelasnya.
Indonesia sendiri memiliki jalur zona subduksi yang sangat panjang, membentang dari barat Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Selain itu, zona subduksi juga terdapat di wilayah utara Sulawesi.
Khusus di DIY, potensi dampak gempa megathrust tetap perlu diwaspadai. Wilayah selatan DIY berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, sementara sumber gempa berada sekitar 250 kilometer di selatan garis pantai.
Jika gempa besar terjadi, guncangan kuat dapat dirasakan hingga wilayah daratan. Sementara itu, kawasan pesisir dengan ketinggian rendah memiliki risiko terdampak tsunami.
"Daerah pesisir dengan ketinggian kurang dari 30 meter berpotensi terdampak tsunami, sehingga masyarakat perlu memahami risiko ini," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi itu tidak dapat diterjemahkan sebagai kepastian waktu kejadian. Dalam ilmu kebumian, gempa tidak dapat diprediksi secara tepat.
"Perlu dipahami adanya potensi bukan berarti akan terjadi besok atau lusa. Ini adalah pengingat bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana, jadi harus selalu waspada," tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diminta untuk memahami tanda-tanda gempa yang berpotensi tsunami, terutama jika berada di wilayah pesisir. Gempa kuat yang terasa lama dapat menjadi indikasi awal untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi.
"Selain itu, pemahaman soal jalur evakuasi dan lokasi aman jadi hal penting yang perlu diketahui masyarakat, terutama di kawasan rawan," pesannya.
Di sisi lain, Gayatri juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat mitigasi struktural, seperti pembangunan shelter tsunami di kawasan padat, penyediaan jalur evakuasi yang memadai, serta penguatan sistem peringatan dini.
"Edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ini agar masyarakat siap tanpa harus hidup dalam ketakutan," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun