Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Imbau Pilih Padi Genjah Hadapi Kekeringan

Adib Lazwar Irkhami • Sabtu, 16 Mei 2026 | 21:44 WIB
PUNCAK KEMARAU: Siluet bocah bermain saat cuaca cerah di wilayah Kapanewon Mlati, Sleman, kemarin (10/7).
PUNCAK KEMARAU: Siluet bocah bermain saat cuaca cerah di wilayah Kapanewon Mlati, Sleman, beberapa waktu lalu.

 

JOGJA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY bergerak cepat menyiapkan strategi mitigasi menghadapi potensi kekeringan ekstrem El Nino “Godzilla” pada 2026. Upaya ini difokuskan pada pengamanan stok pangan melalui penggunaan varietas padi berumur pendek (genjah), pemanfaatan pangan lokal nonberas, serta penerapan teknologi hemat air.

Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, berdasarkan peringatan pemerintah pusat, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung cukup panjang, yakni sekitar 190 hingga 210 hari, sehingga berpotensi menimbulkan dampak El Nino yang cukup besar.

"Ini satu dasarian lebih maju. Diperkirakan nanti 19 sampai 21 dasarian yang akan terjadi, artinya hampir 190 sampai 210 hari. Kalau itu terjadi, maka memang akan terjadi kekurangan air. Makanya kemudian dikatakan Godzilla, karena dampaknya besar," katanya, kemarin (16/5).

Baca Juga: Waspada Super El Niño 2026, Suhu Pasifik Naik Ekstrem, Ancaman Kekeringan dan Banjir Mengintai Indonesia Termasuk Jogja

Kunci utama dalam menjaga produksi pertanian di tengah tekanan iklim ekstrem ini terletak pada ketepatan manajemen tanam serta pemilihan benih yang adaptif terhadap keterbatasan air. Pasalnya, tidak semua varietas padi memiliki ketahanan yang sama terhadap kondisi kekeringan.

"Makanya harus disiapkan betul. Paling tidak kami lihat evaluasi tahun 2023, ada titik-titik tertentu yang potensinya kekeringan luar biasa. Ini harus kami atasi," lontarnya. 

Aris mengimbau kepada para petani agar menanam padi yang genjah atau padi yang umurnya pendek, tetapi tahan terhadap kekurangan air dan iklim. Sebab, jika para petani salah memilih bibit, dikhawatirkan nanti tanamannya tidak tahan kekeringan dan tidak bisa berumur panjang. 

"Kalau lama mau panen ternyata airnya tidak terjaga, prediksinya bisa puso atau gagal panen," tegasnya. 

Baca Juga: Kemarau Diprediksi Lebih Kering, Magelang Siaga Kekeringan dan Karhutla

Kendati dibayangi ancaman kekeringan pada komoditas padi, dia menjamin secara umum kondisi ketahanan pangan di wilayah DIY masih berada dalam kategori aman. Aris mengingatkan kembali pentingnya menengok kearifan lokal serta potensi pangan alternatif nonberas yang melimpah di Jogjakarta sebagai subsitusi karbohidrat yang tangguh menghadapi kemarau.

"Kalau kami bisa menyiasati jenis tanaman dan penghematan air, Insya Allah tidak masalah. Dulu leluhur kita punya konsep Lumbung Mataraman nandur apa sing dipangan, mangan apa sing di-tandur," ungkapnya. 

Di sisi lain, guna menyiasati keterbatasan air untuk komoditas hortikultura seperti sayuran, dia juga mendorong masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan rumah dengan teknologi pertanian mikro yang murah dan aplikatif. Salah satunya menggunakan sistem sumbu dari barang bekas.

"Jadi masyarakat harus proaktif mencari informasi cara bercocok tanam yang adaptif," ujarnya.  (ayu/wia)

Editor : Herpri Kartun
#Padi Genjah #kekeringan ekstrem #Kekeringan #el nino #kemarau