JOGJA - Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo merespons kabar dijualnya rumah peninggalan Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, dengan rencana menemui pihak keluarga.
Pemkot Jogja berharap rumah bersejarah milik rektor pertama UGM itu tidak jatuh ke tangan swasta dan tetap lestari sebagai aset sejarah serta warisan budaya.
Hasto mengatakan, pemerintah kota (pemkot) belum menerima pemberitahuan maupun penawaran resmi dari pihak keluarga Dr Sardjito terkait dengan dijualnya rumah tersebut. Informasi yang diterima baru sekadar melalui pesan singkat.
"Secara resmi lewat surat memang belum ada, tapi lewat WhatsApp sudah,” ujar Hasto saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Jumat (15/5/2026).
Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu memandang, rumah Dr Sardjito bukan sekadar warisan budaya. Namun merupakan objek yang memiliki nilai sejarah luar biasa. Hal tersebut tentu tidak lepas dari sosok Dr Sardjito yang merupakan rektor pertama UGM yang memiliki kiprah besar dalam dunia kesehatan.
Menanggapi aspirasi agar bangunan dibeli oleh pemkot, Hasto menjelaskan APBD Kota Jogja tahun 2026 tidak memungkinkan untuk melakukan pembelian aset dalam waktu dekat. Namun ada peluang pembelian bisa dilakukan dengan dana keistimewaan (danais) karena merupakan bangunan warisan budaya.
Dia pun berencana menemui pihak keluarga Dr Sardjito dalam waktu dekat agar bisa didapatkan solusi terbaik. Seiring dengan itu, Pemkot Jogja juga akan berkoordinasi dengan UGM dan RSUP Dr Sardjito. “Ini agar rumah sang pahlawan nasional itu tetap lestari sebagai aset sejarah bangsa,” ujarnya.
Hasto menekankan, marwah rumah tersebut memang sudah seharusnya dijaga. Dia pun sebenarnya tidak rela jika rumah Dr Sardjito nantinya beralih menjadi tempat bisnis komersial seperti kafe. Apalagi rumah tersebut juga dijadikan Dr Sardjito sebagai tempat riset. Termasuk pembuatan obat batu ginjal Calcusol.
"Harapan saya tidak jatuh ke pihak swasta. Sebaiknya memang dibeli oleh pemerintah, UGM, atau rumah sakit Sardjito,” ungkap politisi berlatar belakang dokter itu.
Baca Juga: Darurat Miras, AMM dan GMNU Kulon Progo Bersatu Mendesak Pelarangan Total
Diberitakan sebelumnya, kabar dijualnya rumah milik Dr Sardjito diungkapkan oleh Budhi Santoso.
Sosok yang sudah menempati bangunan tersebut selama puluhan tahun itu kaget karena rumah Dr Sardjito ditawarkan melalui sosial media.
Meski tidak memiliki hak atas rumah Dr Sardjito, Budhi menilai tidak etis jika rumah tersebut jatuh kepada pemilik personal.
Kemudian merubah bangunan menjadi kafe atau hotel yang tidak sesuai dengan perjuangan Dr Sardjito.
“Rumah ini mungkin lebih mulia dipakai sebagai museumnya Pak Sardjito atau rumah bakti sosial seperti puskesmas. Itu lebih mulia,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita