JOGJA - Kabar dijualnya rumah Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja tersiar dengan cepat.
Namun di balik itu ada kebingungan yang dihadapi Budhi Santoso.
Sosok yang menempati rumah itu puluhan tahun terakhir kaget karena bangunan tersebut dijual tanpa tahu siapa penjualnya.
Baca Juga: Komisi A DPRD Gunungkidul Monitoring Persiapan Pilur, Tekankan Netralitas dan Kondusifitas
Saat ditemui di kediamannya, Budhi mengaku sebagai anak angkat angkat Dr Sardjito. Dia menempati rumah itu selama 45 tahun terakhir.
Secara hukum dia memang dia tidak memiliki hak kepemilikan dari rumah tersebut. Pun dia juga sudah punya rumah sendiri.
Namun moralitasnya berkata lain. Dia merasa sosok Dr Sardjito bukan orang sembarangan dan seharusnya tidak pantas rumah peninggalannya dijual secara terbuka bak kacang goreng.
Baca Juga: 77 PNS Purna Tugas, Pemkab Gunungkidul Pastikan Kelancaran Gaji Pensiunan
Bahkan menurutnya, sejumlah broker juga sempat datang untuk memotret bangunan rumah tanpa persetujuan penghuni.
Budhi merupakan sosok yang secara administratif mengawal pengurusan bangunan tersebut dari Hak Guna Bangunan (HGB) sejak tahun 1981 hingga saat ini.
Bahkan di pelang bangunan warisan budaya yang dipasang oleh Pemkot Jogja juga terpasang atas nama dirinya.
Dari segi bangunan, rumah rektor pertama UGM Dr Sardjito itu terkesan nyentrik. Konsepnya mengusung bangunan jengki khas zaman kolonial.
Ornamen peninggalan Dr Sardjito juga masih utuh. Baik itu lukisan, furniture, maupun cinderamata yang ditinggalkan.
Bagi sebagian orang, letak rumah Dr Sardjito strategis. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Serta sangat dekat lingkungan kampus dan pusat bisnis.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Bikin Nelayan Gunungkidul Susah Tangkap Ikan, Mencari Benur Jadi Pilihan
Meskipun tidak memiliki hak pribadi, Budhi tetap bertahan di rumah itu demi menjaga amanah orang tua angkatnya.
Dia pun berharap agar rumah itu dibeli oleh UGM atau pemkot.
Lantaran pengelolaannya nanti akan lebih jelas.
Budhi tidak rela jika rumah itu dijual secara terbuka dan jatuh kepada tangan pribadi yang tidak tahu sejarah.
Sebab dampaknya akan panjang. Bisa saja terbengkalai atau berubah fungsi menjadi tempat hiburan yang tidak relevan dengan jasa sang pahlawan.
“Rumah ini mungkin lebih mulia dipakai sebagai museumnya Pak Sardjito atau rumah bakti sosial seperti puskesmas. Itu lebih mulia karena rohnya masih Pak Sardjito.
Jadi saya lebih rela dikelola kampus atau pemerintah,” ujar Budhi.
Selain difungsikan sebagai rumah tinggal, di bagian belakang rumah Dr Sardjito diketahui juga menjadi rumah produksi jamu Calusol.
Jamu yang ditemukan oleh Sardjito untuk membantu meluruhkan batu ginjal.
Berbahan dasar daun tempuyung atau tanaman dengan lama latin Sonchus arvensis.
Bagi Budhi, Calcusol bukan sekedar obat. Namun menjadi peninggalan dari Dr Sardjito.
Obat itu ditemukan di atas penderitaan istri Sardjito yang mengidap penyakit kencing batu kronis.
“Jadi pandangan saya sudahlah kembalikan ke UGM saja.
Terserah UGM mau istilahnya memberi mahar kepada ahli waris, saya tidak ikut urusan,” tegasnya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun