Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Duh! Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Kota Jogja Terus Bertambah, Ini Penyebabnya

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 14 Mei 2026 | 19:13 WIB
Ilustrasi kesehatan mental.
Ilustrasi kesehatan mental.

 

JOGJA - Kasus gangguan jiwa di Jogja diketahui terus bertambah.

Selama periode satu tahun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat ada peningkatan sebanyak 65 penderita.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Jogja Iva Kusdyarini mengatakan, sepanjang tahun 2024 penderita gangguan jiwa mencapai 3.433 orang.

Baca Juga: Nelayan yang Tenggelam di Pantai Baru Ditemukan dalam Kondisi Meninggal Dunia 

 Kemudian satu tahun setelahnya naik menjadi 3.498 penderita.

Iva menyebut, dari banyaknya kasus yang tercatat di tahun 2025 mayoritas merupakan penderita gangguan jiwa berat dengan jumlah 1.116 orang.

 Disusul penderita depresi 1.070 orang, lalu penderita gangguan cemas 979 orang, serta campuran dari penderita gangguan cemas dan depresi 433 orang.

Baca Juga: Diduga Akibat Korsleting Listrik di Purworejo, 200 Motor Karyawan Pabrik Ban PT Arami Jaya Ludes Terbakar

“Faktor penyebab seseorang mengalami permasalahan kesehatan jiwa merupakan kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial-ekonomi,” ujar Iva saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (14/5).

Meski belum dapat menyampaikan data secara rinci terkait dengan kategori usia penderita gangguan jiwa di Kota Jogja, Iva mengungkap masalah kesehatan jiwa cukup rawan menyerang usia muda.

Hal itu merujuk data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023.

 Anak muda dengan usia 15-24 tahun ditempatkan pada kategori yang paling rawan mengalami depresi dibandingkan kelompok umur lainnya.

 Ironisnya, justru mereka yang paling sedikit mengakses pengobatan.

Secara nasional, pemerintah pusat terus mendorong pemerintah daerah untuk melakukan skrining kesehatan jiwa. 

Baca Juga: Alokasikan Rp 8,6 Miliar untuk Perbaikan Jalan Desa, Setiap Kalurahan Akan Dapat Anggaran Rp 100 Juta: Bisa Aspal atau Cor Beton

Baik itu komunitas seperti di perkantoran, sekolah-sekolah, masyarakat umum dan kelompok masyarakat lainnya. 

Jika pada skrining didapatkan individu dengan masalah kesehatan jiwa maka dapat berkonsultasi kepada guru di sekolah, bagian kepegawaian di kantor atau kader kesehatan.

 Namun apabila butuh penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

"Diharapkan dengan program ini dapat menurunkan masalah-masalah kesehatan jiwa. Salah satunya depresi di masyarakat,” jelas Iva.

Baca Juga: Momen Long Weekend, Malioboro Masih Lengang dan Hotel Belum Ramai: Ini Penyebabnya!

Psikolog Faza Maulida menilai, ada berbagai faktor yang menyebabkan gangguan jiwa.

Namun jika melihat kondisi di Kota Jogja,  penyebab paling mungkin adalah faktor sulitnya mendapat pekerjaan dan upah yang rendah.

Menurut akademisi UAD ini, lapangan kerja yang sangat sedikit di Kota Jogja bisa berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang.

 Apalagi jika ditambah justifikasi dari masyarakat luas tentang stigma buruk status pengangguran.

Upah yang rendah juga sangat berpengaruh terhadap kondisi mental karena keadaan ekonomi seseorang.

Baca Juga: Warga di Kulon Progo Pasang Spanduk Sindiran, Tuntut Lurah Garongan Segera Mundur

 Lantaran seseorang yang merasa terus bekerja tapi kebutuhan sehari-hari tidak bisa terpenuhi, rawan terkena tekanan psikologis.

"Kalau di Jogja sendiri kemungkinan itu berhubungan dengan lingkungan sosial. Dari sosial merembet ke ekonomi,” terang Faza. (inu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#survei kesehatan indonesia #depresi #gangguan jiwa