Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dilema Perajin Tempe di Kota Jogja, Tidak Bisa Naikkan Harga Pilih Siasati Ukuran

Iwan Nurwanto • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:21 WIB
Toni Affandi, pemilik usaha Produksi Tempe Murni Ibu Nur Cahyo saat ditemui di rumah usahanya yang beralamat di Kelurahan Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja, Rabu (13/5/2206). (IWAN NURWANTO/Radar Jogja) 
Toni Affandi, pemilik usaha Produksi Tempe Murni Ibu Nur Cahyo saat ditemui di rumah usahanya yang beralamat di Kelurahan Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja, Rabu (13/5/2206). (IWAN NURWANTO/Radar Jogja) 

JOGJA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar begitu menghantam para perajin tempe. Pasalnya, harga kedelai impor juga ikut meroket dan mempengaruhi margin keuntungan. Itulah yang dirasakan Toni Affandi, salah satu produsen tempe di Kelurahan Warungboto, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja.

Toni mengungkapkan bahwa harga kedelai impor sebagai bahan baku tempe saat ini sudah menyentuh Rp 11.000 per kilogram. Naik sejak sebulan yang lalu dari harga normalnya di kisaran Rp 8.700 hingga 9.000 per kilogram.

Generasi ketiga pemilik usaha Produksi Tempe Murni Ibu Nur Cahyo itu mengakui, meroketnya harga kedelai impor memang mencekik produsen. Lantaran produsen dihadapkan dilema tidak bisa menaikkan harga. Sebab dapat dipastikan konsumen mengeluh.

“Kalau mau menaikkan harga itu susah, pelanggan banyak yang tidak mau,” ujar Toni saat ditemui di rumahnya, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga: Dewan Juri dan MC Lomba Cerdas Cernat Empat Pilar MPR RI 2026 Kalimantan Barat Telah Dinonaktifkan Buntut Pengurangan Nilai pada Regu SMAN 1 Pontianak

Menyiasati hal tersebut, dia memilih untuk mengurangi ukuran tempe menjadi lebih kecil. Beruntungnya para konsumen yang merupakan penjual di Pasar Sentul, Pasar Demangan, dan para pengusaha warung makan memaklumi hal tersebut. Sehingga penjualan tetap berjalan normal.

Toni membeberkan, produksi tempe rumahan miliknya bisa menghabiskan hingga dua ton kedelai impor. Dalam sehari ada sekitar 70-80 kilogram tempe yang bisa dibuat. Harga yang ditawarkan bervariatif sesuai ukuran. Mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 10.000 per lembar.

Meski volume produksi berjalan stabil, menurutnya keuntungan produsen tempe kian menipis. Sebab setiap kali membeli stok bahan baku baru atau kulakan harga kedelai impor di distributor sudah berubah naik.

"Pas mau beli lagi harganya sudah naik lagi. Jadi rasanya seperti tidak menutup modal,” keluh Toni.

Baca Juga: Lazio vs Inter Milan Final Coppa Italia, Kapten Nerazzurri Lautaro Martinez Ingin Kawinkan Gelar

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Jogja Sri Riswanti menyatakan, pihaknya akan segera melakukan pemantauan terkait dengan harga kedelai di pasar tradisional. Hal tersebut untuk memastikan stok kedelai impor masih dalam batas aman atau tidak ada penimbunan.

Riswanti menyatakan, pihaknya memang tidak bisa berbuat banyak terkait dengan pengendalian harga kedelai impor. Lantaran merupakan salah satu komoditas yang penanganannya di tingkat pusat.

Dia pun menegaskan, belum ada langkah intervensi seperti operasi pasar untuk kedelai dalam waktu dekat ini. Karena sesuai peraturan yang berlaku intervensi baru akan dipertimbangkan jika kenaikan harga sudah melebihi batas wajar atau terjadi kelangkaan stok yang signifikan.

“Selama stok di pasar masih melimpah dan akses masyarakat mudah, kami sifatnya masih melakukan pemantauan rutin,” katanya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #tempe #perajin tempe #kedelai #harga naik