Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena El Nino diprediksi dapat membuat musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sehingga memicu berbagai potensi bencana kekeringan metereologis. Seperti krisis air, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan pengamatan data dinamika atmosfer-laut terkini, El Nino sudah mulai aktif dengan level lemah-moderat mulai periode Mei-Juni-Juli. Kemudian pada Agustus seluruh wilayah DIY akan mulai memasuki puncak musim kemarau.
“Oleh karena itu diperlukan langkah efisien dalam pengelolaan sumber daya air di tingkat rumah tangga maupun irigasi,” ujar Reni dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Reni pun mengingatkan, pada periode Juni dan Juli akan ada penurunan drastis curah hujan dibandingkan Mei. Pada Mei kategori hujan memasuki rendah hingga menengah. Sementara Juni dan Juli curah hujan hanya berkisar 0-20 mm atau kategori rendah.
Selain El Nino, aktifnya Monsun Australia dan prediksi Dipole Mode Index (DMI) yang bernilai positif turut memperkuat potensi pengurangan curah hujan. Terkhusus di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk DIY.
“Kami berharap wilayah yang rentan (bencana musim kemarau) lebih waspada,” pesannya.
Baca Juga: Disdik Sleman Sebut Bayi di Rumah Pakem Berasal dari Mahasiswa yang Titip Anak ke Bidan
Meskipun Kota Jogja bukan wilayah rawan kekeringan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat meminta agar masyarakat bijak menggunakan sumber daya air. Misalnya dengan tidak membuang-buang air untuk kegiatan yang tidak perlu.
Nur menyebut, secara geografis Kota Jogja diapit oleh tiga sungai besar. Meliputi Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajahwong dan jaringan pipa PDAM. Sehingga sumber air tetap memadai meskipun menghadapi kemarau.
“Tapi kami imbau agar masyarakat selalu mengoptimalkan pemanfaatan air tersebut dengan bijak dalam penggunaannya,” terangnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita