JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ mengeklaim tahun 2026 belum ada laporan kasus positif Hantavirus. Enam orang pasien yang terkonfirmasi positif tahun 2025 dikabarkan telah sembuh total.
Kepala Dinkes DIJ Gregorius Anung Trihadi mengatakan, kali pertama ditemukan kasus Hantavirus di DIJ pada tahun 2026 sebanyak enam orang.
Virus itu terdeteksi dari program surveilans sentinel rutin yang bertujuan untuk kewaspadaan.
"Keenamnya sembuh, tidak ada kasus kematian, serta tidak ditemukan kasus lainnya," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (8/5).
Hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan adanya kasus positif Hantavirus dari sentinel rutin yang telah diperiksa laboratorium.
Ia mengakui ada dugaan pasien suspek Hantavirus, namun saat ini masih dalam proses pemeriksaan laboratorium dan menunggu hasilnya.
"Intinya jangan panik. Belum ada kasus terkonfirmasi positif di DIJ tahun 2026," tegasnya.
Baca Juga: Pelaku Begal Pantat di Magelang Ditangkap, Ngaku Aksinya sebagai Kepuasan Pribadi
Ia menjelaskan, Hantavirus adalah penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus.
Meskipun hampir sama jalur penularannya dengan Leptospirosis, berbeda penyebab kumannnya.
"Leptospirosis oleh bakteri Leptospira, sedangkan penyakit Hanta oleh virus Hanta," jelasnya.
Penularan Hantavirus dapat terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Kemudian menghirup udara yang terkontaminasi kotoran tikus (droplet) dan kontak dengan air atau tanah yang telah tercemar virus tersebut.
Baca Juga: Progres Sudah 47 Persen, Rehabilitasi Jembatan Jonge Dipercepar Ditarget Rampung Juni
"Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan dengan langkah pola hidup bersih dan sehat (PHBS)," paparnya.
Langkah yang dilakukan Dinkes DIJ bersama dengan kabupaten/kota yakni melakukan pelacakan kasus (contact tracing) dan pemantauan wilayah di sekitar domisili penderita.
Kemudian melakukan surveilans sentinel rutin untuk kewaspadaan.
"Pelaksanaan pemasangan perangkap tikus (trapping) untuk uji laboratorium guna mengidentifikasi jenis virus pada populasi tikus lokal," katanya.
Selain itu, mereka akan memperkuat edukasi dan sosialisasi intensif melalui puskesmas dan kader kesehatan mengenai pentingnya sanitasi lingkungan (Rodent Control) dan pelaporan kasus berbasis masyarakat. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun