Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dilema Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen, Jogja, Berjualan Offline Sepi, Tawarkan Online Rugi

Iwan Nurwanto • Jumat, 8 Mei 2026 | 15:22 WIB
Suasana Pasar Klithikan Pakuncen yang mulai semakin sepi pada Jumat (8/5/2026). Dulu pasar tersebut didatangi ribuan pengunjung setiap harinya. (iwan nurwanto/Radar Jogja) 
Suasana Pasar Klithikan Pakuncen yang mulai semakin sepi pada Jumat (8/5/2026). Dulu pasar tersebut didatangi ribuan pengunjung setiap harinya. (iwan nurwanto/Radar Jogja) 

 JOGJA - Dulu, Pasar Klithikan Pakuncen Kota Jogja menjadi pusat perburuan barang antik. Tapi kini para pedagang semakin kebingungan karena kondisi pasar yang semakin sepi.

Pantauan Radar Jogja, kondisi Pasar Klithikan Pakuncen memang memprihatinkan. Dari puluhan lapak hanya sebagian kecil yang buka. Mayoritas yang bertahan hanya beberapa pedagang barang antik dan onderdil motor.

Salah satu pedagang barang antik di pasar tersebut, Klowor mengungkapkan bahwa sebelum masa pandemi Covid-19 pasar yang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan itu merupakan pusat keramaian. Sehari-hari ribuan orang bisa datang dengan tempat parkir penuh sesak.

Namun sekarang, Klowor menyebut Pasar Klithikan Pakuncen sudah sangat lenggang. Lalu lalang pengunjung sudah sangat jarang. Sementara pembeli juga sudah tidak pasti. Sehingga pasrah pun menjadi pilihan terakhir.

Baca Juga: IKAPMII DIY Resmi Gandeng Kampung Inggris Jogja, Tingkatkan Skill Bahasa Inggris Kader PMII

“Karena kalau mengharapkan (Pasar Klithikan) ramai kayak dulu sudah tidak bisa, jadi bisanya cuma bersyukur,” ujar Klowor kepada Radar Jogja, Jumat (8/5/2026).

Pedagang barang antik pindahan dari Jalan Asem Gede-Pasar Kranggan ini mengaku juga tengah menghadapi dilema. Lantaran migrasi ke penjualan secara online justru membuat pedagang semakin merugi.

Klowor mengakui, pasar digital memang menawarkan jangkauan yang luas. Namun para pedagang dihadapkan oleh biaya admin atau potongan aplikasi yang mencekik. Sehingga margin keuntungannya pun semakin tipis bahkan merugi.

“Umpamanya kami jual barang seharga satu juta, potongannya seratus ribu. Wah tidak untung itu,” beber Klowor.

Baca Juga: Prediksi Skor Torino vs Sassuolo Serie A Sabtu 9 Mei 2026, Upaya Jay Idzes Cs Bersaing di Papan Atas

Hal serupa juga dirasakan oleh Yuli, penjual busana ini juga mengaku hanya bisa pasrah dengan semakin sepinya Pasar Klithikan Pakuncen. Menurutnya, pemerintah kota (pemkot) sudah berupaya untuk membuat suasana pasar semakin ramai tapi tidak kunjung berhasil.

“Dulu pernah digelar event. Cuma terus sepi lagi, sekarang ya cuma gini-gini saja (sepi),” ungkapnya singkat.

Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengungkapkan, pihaknya akan melakukan revitalisasi fisik dan sosial. Sehingga gairah Pasar Klithikan Pakuncen bisa hidup kembali.

Baca Juga: Nelayan Jawa Tengah Temui Gubernur Terkait Harga Solar Industri Naik, Ahmad Luthfi: Siap Kawal Aspirasi ke Pemerintah Pusat

Dijelaskan, revitalisasi fisik terkait terkait dengan perbaikan bangunan yang diusulkan pada tahun ini. Kemudian revitalisasi sosial sudah dilakukan dengan pendampingan dan pendekatan kultural kepada para pedagang.

“Kami rencana menerapkan konsep pasar rakyat hybrid. Versi offline jangan dimatikan, tapi online-nya harusnya jalan,” cetusnya belum lama ini. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Jualan offline #Pedagang merugi #Kota Jogja #Pakuncen #Pasar Klitikan Pakuncen