JOGJA - Harga kebutuhan pokok di Kota Jogja mulai turun pasca-Lebaran, tercermin dari deflasi April sebesar 0,01 persen. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mengingatkan potensi kenaikan harga kembali pada Mei, terutama bumbu masak menjelang Idul Adha.
Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, laju inflasi mulai menyentuh angka cukup tinggi pada Maret dengan persentase 0,33 persen. Penyumbang inflasi terbesar meliputi daging ayam ras, emping melinjo, dan bahan bakar minyak.
Kemudian memasuki April, angka inflasi turun menjadi hanya 0,01 persen. Hal tersebut dipengaruhi normalisasi harga kebutuhan pokok khususnya bahan makanan pascamomen Lebaran.
Baca Juga: Kasus Pemukulan Pelari Jogja 10K Diselesaikan Secara Kekeluargaan, Proses Hukum Tidak Berlanjut
“Jadi kecenderungannya banyak komoditas yang ketika Lebaran itu harganya naik, terus kembali ke semula atau turun,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Senin (4/5/2026).
Meskipun harga komoditas bahan pokok berangsur normal pada April, eks Kepala BPS Gunungkidul itu meminta masyarakat tetap mewaspadai potensi kenaikan sejumlah komoditas pada Mei ini. Sebab bertepatan dengan momentum hari raya Idul Adha. Khususnya untuk jenis bumbu-bumbu masakan.
Joko menilai, inflasi pada jenis komoditas bumbu masakan itu dipengaruhi karena meningkatnya permintaan masyarakat. Misalnya untuk mengolah daging kurban.
Baca Juga: Bupati Sleman Harda Kiswaya Berharap Derby DIY Dapat Mempererat Suporter PSS Sleman dan PSIM Jogja
“Ada permintaan bumbu-bumbu dan sebagainya. Tapi relatif mungkin stabil, tidak seperti saat Lebaran,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Jogja Sri Riswanti menyatakan, pengendalian inflasi selama ini dilakukan dengan penguatan pasar rakyat melalui Kios Segoro Amarto dan Warung Mrantasi.
Menurutnya, Warung Mrantasi melibatkan pedagang pasar sebagai ujung tombak pengendalian harga.
Baca Juga: Serangan Tumpul, PSIM Jogja Kembali Kalah dan Pulang tanpa Poin di Bandung
Hingga 2026 diketahui sudah ada 85 pedagang yang bergabung. Tersebar di Pasar Beringharjo, Kranggan, Prawirotaman, dan Pasar Sentul.
“Sementara Kios Segoro Amarto merupakan kios pantau pangan yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga setinggi-tingginya sesuai HET (harga eceran tertinggi),” jelasnya belum lama ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita