JOGJA - Kasus malaria di Kota Jogja pada awal 2026 mencapai 30 temuan, namun seluruhnya merupakan kasus impor dari luar daerah, dengan mayoritas berasal dari Papua.
Tingginya mobilitas penduduk membuat kota ini tetap berisiko terhadap penularan meski telah berstatus eliminasi malaria sejak 2014.
Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, puluhan kasus itu temuan pada periode Januari hingga April.
Baca Juga: Kasus Pemukulan Pelari Jogja 10K Diselesaikan Secara Kekeluargaan, Proses Hukum Tidak Berlanjut
Dari jumlah tersebut, 21 kasus di antaranya merupakan orang asli Papua (OAP). Kemudian sisanya, merupakan masyarakat yang sebelumnya melakukan perjalanan di Indonesia timur.
Endang mengakui, kasus malaria memang cukup banyak ditemukan di provinsi timur Indonesia karena merupakan daerah endemik malaria. Bahkan Kementerian Kesehatan telah menetapkan Papua sebagai wilayah dengan endemisitas malaria tertinggi di Indonesia.
Adapun Kota Jogja sejak 2014 lalu sudah berstatus daerah eliminasi malaria. Status eliminasi ditetapkan oleh indikator dari tidak adanya kasus malaria lokal selama tiga tahun berturut-turut dan tidak ada kasus kematian akibat malaria.
“Kasus malaria yang kami tangani seluruhnya dari luar daerah,” ujar Endang saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah meminta agar masyarakat tetap mewaspadai penyakit malaria.
Lantaran wilayah urban dengan mobilitas penduduk dari luar daerah yang cukup tinggi seperti Kota Jogja cukup rawan menjadi lokasi penularan.
Baca Juga: Serangan Tumpul, PSIM Jogja Kembali Kalah dan Pulang tanpa Poin di Bandung
Upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan memeriksakan kondisi kesehatan jika mengalami gejala malaria usai bepergian dari daerah endemis.
Seperti Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Gejala malaria biasanya diawali dengan demam, pusing, berkeringat, menggigil, lesu, mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Menurutnya, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles sp betina itu bisa disembuhkan jika langsung ditangani oleh petugas kesehatan ketika gejala muncul.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Citrosono Grabag Magelang, Belasan Rumah Terdampak dan Motor Warga Hanyut
Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Kota Jogja juga dapat melakukan tindakan pengobatan malaria.
“Jika mengalami gejala-gejala itu, terutama setelah bepergian dari daerah endemis malaria segera memeriksakan ke puskesmas atau rumah sakit,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita