JOGJA - BMKG Yogyakarta memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dalam tiga bulan ke depan, seiring munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat.
Kondisi ini meningkatkan potensi kekeringan dan dampak turunannya di wilayah DIY.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena El Nino fase lemah hingga moderat akan muncul mulai Mei-Juni-Juli.
Kondisi tersebut memungkinkan penurunan peluang hujan dari 60 hingga 80 persen di wilayah Yogyakarta.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Temui Massa Aksi Buruh, Serap Semua Aspirasi
Reni meminta, agar pemerintah dan masyarakat lebih antisipatif terhadap dampak musim kemarau.
Seperti kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
Terutama di daerah-daerah rawan bencana musim kemarau.
“Kondisi musim kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Jumat (1/5/2026).
Baca Juga: Head to head PSS Sleman vs PSIS Semarang, Super Elja Dominan, Namun Tetap Harus Waspada
Berdasarkan hasil pengamatan dinamika atmosfer, Reni mengungkap awal musim kemarau diprediksi terjadi mulai dasarian satu atau periode sepuluh hari pertama Mei.
Kemudian puncaknya dimungkinkan terjadi pada Agustus dan kemarau berakhir pada Oktober-November.
Pada periode puncak musim kemarau, BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk menyesuaikan pola tanam agar tidak terjadi gagal panen.
Kemudian untuk daerah rawan kekeringan diharapkan mulai melakukan pengelolaan sumber daya air yang efisien agar tidak mengalami kesulitan air bersih.
“Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau,” pesan Reni.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, kendati Kota Jogja bukan kategori wilayah rawan kekeringan, masyarakat tetap diimbau untuk bijak menggunakan sumber daya air.
Nur menyebut, kecilnya kemungkinan kekeringan di Kota Jogja disebabkan letak geografis yang diapit tiga sungai besar.
Meliputi Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong. Kemudian sumber air bersih juga memadai karena mayoritas rumah sudah tersambung dengan pipa PDAM dan sumur.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengoptimalkan pemanfaatan air tersebut dengan bijak dalam penggunaannya,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita