Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada Kekeringan! Hujan Mulai Menyusut akibat El Nino Lemah hingga Moderat: Begini Penjelasan BMKG Yogyakarta

Iwan Nurwanto • Jumat, 1 Mei 2026 | 19:14 WIB
BERKURANG: Bocah pengojek payung menawarkan jasanya di kawasan Malioboro sisi utara, Kota Jogja, Kamis  (30/4/2026). BMKG Yogyakarta memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dalam tiga bulan ke depan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERKURANG: Bocah pengojek payung menawarkan jasanya di kawasan Malioboro sisi utara, Kota Jogja, Kamis  (30/4/2026). BMKG Yogyakarta memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dalam tiga bulan ke depan. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

JOGJA - BMKG Yogyakarta memprediksi curah hujan akan menurun signifikan dalam tiga bulan ke depan, seiring munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat.

 

Kondisi ini meningkatkan potensi kekeringan dan dampak turunannya di wilayah DIY.

 

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena El Nino fase lemah hingga moderat akan muncul mulai Mei-Juni-Juli.

 

Kondisi tersebut memungkinkan penurunan peluang hujan dari 60 hingga 80 persen di wilayah Yogyakarta.

 

Baca Juga: Ahmad Luthfi Temui Massa Aksi Buruh, Serap Semua Aspirasi

 

Reni meminta, agar pemerintah dan masyarakat lebih antisipatif terhadap dampak musim kemarau.

Seperti kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.

 

Terutama di daerah-daerah rawan bencana musim kemarau.

 

“Kondisi musim kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Jumat (1/5/2026).

 

Baca Juga: Head to head PSS Sleman vs PSIS Semarang, Super Elja Dominan, Namun Tetap Harus Waspada

 

Berdasarkan hasil pengamatan dinamika atmosfer, Reni mengungkap awal musim kemarau diprediksi terjadi mulai dasarian satu atau periode sepuluh hari pertama Mei. 

 

Kemudian puncaknya dimungkinkan terjadi pada Agustus dan kemarau berakhir pada Oktober-November.

Pada periode puncak musim kemarau, BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk menyesuaikan pola tanam agar tidak terjadi gagal panen. 

 

Baca Juga: Tak Hanya Mengajar, Guru SLB Bhakti Wiyata Kulon Progo Biasa Antarkan Siswa Pulang Sekolah Sampai Rumah

 

Kemudian untuk daerah rawan kekeringan diharapkan mulai melakukan pengelolaan sumber daya air yang efisien agar tidak mengalami kesulitan air bersih.

 

“Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau,” pesan Reni.

 

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, kendati Kota Jogja bukan kategori wilayah rawan kekeringan, masyarakat tetap diimbau untuk bijak menggunakan sumber daya air.

 

Baca Juga: Investor Pilih Bayar Denda karena Lebih Murah daripada Urus Amdal, Pemkab Soroti Kerusakan Karst dan Krisis Air di Gunungkidul Selatan

 

Nur menyebut, kecilnya kemungkinan kekeringan di Kota Jogja disebabkan letak geografis yang diapit tiga sungai besar.

Meliputi Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong. Kemudian sumber air bersih juga memadai karena mayoritas rumah sudah tersambung dengan pipa PDAM dan sumur.

 

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengoptimalkan pemanfaatan air tersebut dengan bijak dalam penggunaannya,” pesannya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#hujan berkurang #el nino lemah #Kekeringan #bmkg yogyakarta #musim kemarau