JOGJA - Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer pihaknya mendeteksi sejumlah pemicu hujan lebat. Pertama, mulai aktifnya gelombang equatorial Rossby. Kondisi tersebut mempengaruhi peningkatan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Jawa.
Kemudian kedua, suhu muka laut baik dalam skala harian maupun mingguan di Laut Jawa dan Samudera Hindia Selatan Jawa terpantau relatif hangat. Suhunya berkisar 29-30 derajat celcius. Sehingga mendukung ketersediaan uap air di atmosfer.
Selain itu, profil vertikal kelembaban udara wilayah DIY juga berada pada kisaran 60 sampai 95 persen. Sehingga memberi peluang pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Yogyakarta.
Baca Juga: Fakta-Fakta Kasus Dugaan Kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja, Dampak Fisik hingga Psikologis
Menurutnya, pada periode akhir bulan April hingga awal Mei kondisi cuaca juga masih tidak menentu. Sebab merupakan masa transisi dari musim penghujan menuju musim kemarau atau pancaroba.
“Masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrim serta perubahan cuaca yang signifikan secara tiba tiba,” ujar Feri saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Kamis (30/4/2026).
Feri juga memprediksi kondisi cuaca pada awal Mei akan didominasi oleh cuaca terik dengan kemunculan hujan lebat pada sore atau malam hari. Misalnya untuk hari Jumat (1/5/2026) ada potensi hujan sedang hingga lebat di seluruh wilayah DIY.
Kemudian pada Sabtu (2/5/2026) kondisi cuaca dengan potensi hujan lebat diprediksi terjadi di Kota Jogja, Sleman, Kulon Progo bagian utara, Bantul bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara-tengah. Selain mewaspadai potensi cuaca ekstrem, BMKG juga meminta masyarakat dan wisatawan di wilayah pesisir waspada terhadap gelombang tinggi.
Baca Juga: KLIC Fest 2026, Event Internasional Terbesar Pertama di Klaten
“Karena ketinggian gelombang laut bisa mencapai 2,5 hingga 4 meter,” beber Feri.
Secara terpisah, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyampaikan, Kota Jogja sudah mencabut status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Lantaran curah hujan mulai menurun seiring dengan masuknya musim kemarau.
Meski begitu, dia memastikan bahwa BPBD tetap siaga menghadapi kemungkinan ancaman dari kondisi cuaca yang berubah-ubah. Upaya koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk meminimalisir potensi kerugian materil maupun korban jiwa.
“Koordinasi ini penting agar informasi peringatan dini bisa segera sampai ke masyarakat,” ungkap Darmanto. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin