JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mengungkap fakta baru penanganan anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan di daycare Little Aresha. Sejumlah balita diketahui mengalami sulit fokus.
Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengungkapkan, hingga Selasa (28/4) pihaknya sudah menangani sebanyak 47 anak korban daycare. Dari jumlah itu, ada yang sebagian mengalami kurang fokus. Selain itu, ada tujuh yang tinggi badannya tidak sesuai umur atau pendek.
Baca Juga: Ada 31 Daycare Ilegal di Kota Jogja, Beberapa Layanan Penitipan Anak TK-PAUD Juga Belum Berizin
Emma mengaku pihaknya sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap anak-anak yang mengalami kependekan. Ahli gizi juga dikerahkan untuk memastikan penyebabnya. Apakah memang akibat perlakuan pengasuh daycare atau ada penyebab lain.
Disinggung penyebab anak yang mengalami kurang fokus berkaitan dengan penggunaan obat tidur atau CTM, Emma menyatakan, pihaknya masih melakukan pendalaman. Sebab, temuan anak-anak dengan indikasi kurang fokus itu ditemukan dalam asesmen awal.
"Belum bisa diidentifikasi (penggunaan obat tidur). Memang tadi ada beberapa anak yang terlihat tidak fokus, namun itu baru pengamatan sekilas,” ujar Emma saat ditemui di Kemantren Wirobrajan, Selasa (28/4).
Emma menambahkan, untuk menentukan adanya pengaruh obat-obatan terhadap anak diperlukan proses yang cukup panjang. Misalnya wawancara khusus.
Saat ini, Dinkes Kota Jogja baru bisa mendata kondisi anak bisa langsung dilakukan pengukuran. Misalnya berat badan dan tinggi badan sesuai umur anak.
Ia berkomitmen, Dinkes Kota Jogja akan terus mengawal proses ini, sehingga seluruh anak korban Daycare Litlle Aresha mendapatkan kepastian penanganan kondisi kesehatan. Baik itu fisik maupun psikologis.
“Setelah ini (korban daycare) akan tindaklanjuti penyebabnya. Apa dan bagaimana terapinya, mungkin juga apakah ada penyakit-penyakit penyertanya atau tidak,” beber Emma.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Retnaningtyas menyampaikan, pihaknya sampai saat ini masih berproses untuk melakukan asesmen. Hal itu untuk menentukan kebutuhan masing-masing korban. Apakah memerlukan pendampingan hukum, pendampingan psikologi, atau pendampingan tumbuh kembang.
Berdasarkan asesmen awal, pejabat yang akrab disapa Eno ini mengungkap, ada 203 orang tua yang sudah membuat laporan melalui hotline. Dari jumlah itu, 130 anak mendapatkan pendampingan psikologi. Kemudian ada 46 anak mendapatkan pendampingan tumbuh kembang. "Ada orang tua atau anak yang sudah lulus (dari Daycare Little Aresha) juga ikut mengakses hotline aduan," ungkap Eno. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun