Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perasaan Malu dan Rikuh "Berobat Mental" Mulai Terkikis, Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat Yogyakarta Meningkat

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 24 April 2026 | 08:59 WIB
Ilustrasi kesehatan mental.
Ilustrasi kesehatan mental.

JOGJA- Generasi muda kini mulai banyak yang sadar terhadap kesehatan mental masing-masing. Secara tren memang ada peningkatan penderita gangguan psikis karena semakin banyak yang melakukan konseling. Positifnya, perasaan malu dan rikuh pasien untuk 'berobat' dengan psikolog mulai terkikis.

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Miftahun Ni’mah Suseno, M.A., Psikolog mengatakan bahwa menurut data referensi yang ia dapatkan, tren kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental belakangan ini memang naik. Hal tersebut terjadi tidak hanya di Jogja tetapi juga di kota-kota besar lainnya.

"Peningkatan itu dapat dilihat dari kebutuhan masyarakat untuk pendampingan psikologi di Puskesmas dan layanan psikologi lainnya," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, gangguan kesehatan mental yang dikeluhkan masyarakat dewasa ini cukup beragam. Misalnya, untuk generasi milenial banyak disebabkan oleh faktor keluarga dan pekerjaan. Kemudian, generasi Z kebanyakan berkaitan dengan permasalahan relasional atau pergaulan. Kesadaran akan kesehatan mental dinilai sangat diperlukan setidaknya untuk membantu memahami diri sendiri, orang terdekat, bahkan memposisikan diri dalam lingkungan atau pergaulan yang berkaitan dengan masalah penyesuaian diri.

Baca Juga: Juara Bertahan DFB Pokal, Stuttgart Kembali ke Partai Final, Kalahkan Freiburg untuk Tantang Bayern Munich

"Paling banyak yang ditangani biro layanan psikologi itu saat ini memang seputar permasalahan relasional dan penyesuaian diri," imbuhnya.

Lebih detailnya, masalah yang banyak dialami anak muda sekarang seperti merasa ketinggalan tren ramai di media sosial yang bergerak begitu cepat. Padahal idealnya mereka harus bisa menjadi diri sendiri, tapi kebanyakan khawatir tidak diterima dalam pergaulan apabila tidak mengikuti tren.

"Jadi ada kegelisahan, ada perasaan kecewa mungkin kalau yang sampai dalam itu, kenapa aku enggak bisa seperti mereka. Nah itu yang kemudian memunculkan kekhawatiran, kegelisahan pada diri mereka gitu," jelasnya.

Beberapa tanda atau gejala dari gangguan mental tersebut di antaranya kehilangan konsentrasi, kesulitan untuk fokus karena banyak pikiran. Kemudian biasanya akan muncul keinginan untuk mengubah diri tetapi tidak sesuai dengan potensi yangdimiliki karena merasa ada tuntutan sosial. 

Baca Juga: Jadi Penyebab Inflasi, Kota Magelang Masih Tergantung Daerah Lain untuk Pasokan Cabai dan Daging Ayam

"Kemudian kalau sudah begitu akan mengarah fisiknya karena ada gangguan tidur hingga sulit makna. Ada yang beberapa kemudian mengeluhkan sakit kepala, sakit maag gitu ya, bahkan asam lambung," katanya.

Ia menilai ada sisi positif dari fenomena meningkatnya kesadaran kesehatan mental di tengah masyarakat. Hal itu malah menjadi salah satu indikator bahwa konseling psikologi tidak lagi dianggap tabu. Ketakutan untuk curhat atau bercerita kepada psikolog terkait permasalahan yang dialami juga mulai berkurang. 

Namun, ada juga sisi negatifnya. Masyarakat kini banyak melakukan self-diagnostic menggunakan aplikasi atau fitur kuisioner yang didapatkan di web. Menurutnya, kebiasaan tersebut kurang pas karena untuk mendiagnosis gangguan mental seseorang membutuhkan bantuan profesional dan tidak bisa dilakukan secara instan.

"Ini perlu diwaspadai, menggunakan metode atau cara yang salah, yang akhirnya nanti justru menambah masalah," tegasnya.

Baca Juga: Pastikan Aliran Lancar dan Pemeliharaan Mudah, DPUPKP Sleman Tegaskan Penutupan Irigasi Harus Sesuai Rekomtek

HIMPSI DIY menginisiasi beberapa program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Misalnya konseling gratis untuk masyarakat di DIY yang rencananya akan dilakukan di bulan September. Ada 13 kampus psikologi yang akan dilibatkan dalam program itu.

"Masing-masing kampus akan menyediakan sekitar 20 psikolog yang berjaga dari pagi sampai sore," ujarnya.

Selain itu, program edukasi melalui seminar maupun webinar juga sering diadakan. Termasuk edukasi mengenai bahayanya self-diagnosis. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#HIMPSI DIY #anak muda #gangguan kejiwaan #kesehatan mental #gangguan jiwa