Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkot Jogja Siapkan Jalur Alternatif Menuju Kawasan Malioboro di Tengah Larangan Bus Besar Melintasi Sumbu Filosofi

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 23 April 2026 | 21:21 WIB
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja)
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja)

 JOGJA - Pemkot Jogja menyiapkan skenario lalu lintas bus  besar di tengah larangan melintasi sumbu filosofi.

Sejumlah jalur alternatif pun disiapkan bagi bus wisata berukuran besar yang hendak menuju kawasan Malioboro.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, salah satu skenario yang kini disiapkan dengan memaksimalkan Jalan Bhayangkara dan Jalan Mataram untuk perlintasan bus besar.

Dua ruas jalan itu dipilih karena letaknya tidak jauh dari kawasan Malioboro. Sehingga bisa menjadi alternatif bagi armada bus untuk menurunkan wisatawan.

Baca Juga: Kisah Para Terapis di Jogja Bantu Penyintas Stroke, Bayar Seikhlasnya,  Disediakan Makan dan Minuman Gratis: Kami Niatnya Sedekah Keahlian

Hasto menegaskan, larangan bagi bus-bus besar untuk melintas di kawasan  sumbu filosofi termasuk, Titik Nol Kilometer, untuk menjaga warisan budaya yang sudah ditetapkan oleh UNESCO.

Sekaligus mewujudkan pariwisata yang lebih nyaman tanpa gangguan lalu lintas.

 "Kalau terpaksa ada bus-bus besar aksesnya lewat Jalan Mataram dan juga Jalan Bhayangkara.

Jadi saya kira dengan cara begitu sudah bisa mensterilkan Malioboro,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (23/4/2026).

Bupati Kulon Progo periode 2011-2016 dan 2017-2019 itu mengungkapkan, skenario lalu lintas kendaraan besar menuju kawasan Malioboro itu disiapkan usai pemkot berdiskusi dengan sejumlah pelaku wisata.

Baca Juga: Curi Burung saat Piket Dinas, PPPK Satpol PP Gunungkidul Diberhentikan dan Digaji Tinggal 50 Persen hingga Putusan Hukum Tetap

Banyak yang menyarankan agar ada alternatif jalur.

Hasto pun bakal mengkaji usulan terkait dengan pemanfaatan lahan alternatif  bagi bus pariwisata.

Misalnya seperti di bekas pabrik es Jalan Letjend Suprapto atau lahan parkir swasta lain di sekitar Malioboro. 

"Sudah saya sampaikan bahwa tidak ada yang lewat di Titik Nol. Ada bus yang  lewat di Titik Nol kami tiadakan.

Kemudian di sumbu filosofi, saya kira harus kita hindarkan dengan bus besar,” katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono menyampaikan pihaknya mendukung upaya pelestarian sumbu filosofi.

Baca Juga: Satu Dekade Baru Dua Kali Juara Nasional, Pemkot Dorong Inovasi Baru di Pemuda Pelopor Kota Jogja 2026

Namun dia berharap ada promosi yang lebih luas bagi wisatawan asing maupun domestik terhadap kawasan itu. Sehingga, diharapkan dapat lebih banyak memberi dampak positif bagi usaha perhotelan.

“Karena sampai saat ini banyak yang belum tahu apa itu sumbu filosofi. Padahal  ini sudah ditetapkan UNESCO,” bebernya.

Sementara perwakilan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Trianto Sumarso menilai, ketersediaan kantong parkir bus wisata masih menjadi tantangan bagi biro perjalanan wisata.

Oleh karena itu dia berharap pemerintah segera menetapkan titik-titik kantong parkir yang aksesibilitasnya dekat dengan pusat kota. 

"Orang ke Jogja itu pasti ke Malioboro. Untuk wisatawan domestik, hukumnya  wajib.

Tapi sekarang akses kendaraan besar makin terbatas, sementara kantong parkir yang ada juga terbatas,” katanya. (inu/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Titik Nol Kilometer #hasto wardoyo #jalur alternatif #kawasan malioboro #Sumbu Filosofi