JOGJA - Pemkot Jogja menyiapkan skenario lalu lintas bus besar di tengah larangan melintasi sumbu filosofi.
Sejumlah jalur alternatif pun disiapkan bagi bus wisata berukuran besar yang hendak menuju kawasan Malioboro.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, salah satu skenario yang kini disiapkan dengan memaksimalkan Jalan Bhayangkara dan Jalan Mataram untuk perlintasan bus besar.
Dua ruas jalan itu dipilih karena letaknya tidak jauh dari kawasan Malioboro. Sehingga bisa menjadi alternatif bagi armada bus untuk menurunkan wisatawan.
Hasto menegaskan, larangan bagi bus-bus besar untuk melintas di kawasan sumbu filosofi termasuk, Titik Nol Kilometer, untuk menjaga warisan budaya yang sudah ditetapkan oleh UNESCO.
Sekaligus mewujudkan pariwisata yang lebih nyaman tanpa gangguan lalu lintas.
"Kalau terpaksa ada bus-bus besar aksesnya lewat Jalan Mataram dan juga Jalan Bhayangkara.
Jadi saya kira dengan cara begitu sudah bisa mensterilkan Malioboro,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (23/4/2026).
Bupati Kulon Progo periode 2011-2016 dan 2017-2019 itu mengungkapkan, skenario lalu lintas kendaraan besar menuju kawasan Malioboro itu disiapkan usai pemkot berdiskusi dengan sejumlah pelaku wisata.
Banyak yang menyarankan agar ada alternatif jalur.
Hasto pun bakal mengkaji usulan terkait dengan pemanfaatan lahan alternatif bagi bus pariwisata.
Misalnya seperti di bekas pabrik es Jalan Letjend Suprapto atau lahan parkir swasta lain di sekitar Malioboro.
"Sudah saya sampaikan bahwa tidak ada yang lewat di Titik Nol. Ada bus yang lewat di Titik Nol kami tiadakan.
Kemudian di sumbu filosofi, saya kira harus kita hindarkan dengan bus besar,” katanya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono menyampaikan pihaknya mendukung upaya pelestarian sumbu filosofi.
Namun dia berharap ada promosi yang lebih luas bagi wisatawan asing maupun domestik terhadap kawasan itu. Sehingga, diharapkan dapat lebih banyak memberi dampak positif bagi usaha perhotelan.
“Karena sampai saat ini banyak yang belum tahu apa itu sumbu filosofi. Padahal ini sudah ditetapkan UNESCO,” bebernya.
Sementara perwakilan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Trianto Sumarso menilai, ketersediaan kantong parkir bus wisata masih menjadi tantangan bagi biro perjalanan wisata.
Oleh karena itu dia berharap pemerintah segera menetapkan titik-titik kantong parkir yang aksesibilitasnya dekat dengan pusat kota.
"Orang ke Jogja itu pasti ke Malioboro. Untuk wisatawan domestik, hukumnya wajib.
Tapi sekarang akses kendaraan besar makin terbatas, sementara kantong parkir yang ada juga terbatas,” katanya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun