JOGJA - Setiap Rabu, bertempat di Kampung Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja, Asosiasi Sumber Daya Terapis Yogyakarta (ASDTY) menggelar bakti sosial bagi para penyintas stroke.
Berbeda dengan prosedur medis formal yang serba kaku, dalam program ini pasien yang datang dapat merasakan kekeluargaan yang kental, baik dari para terapis maupun pasien lain.
Founder ASDTY IB Haryanto menjelaskan, sejak berdiri pada 6 Juli 2022 silam, ASDTY secara konsisten menjalankan misi sosial.
Sehingga pada program bakti sosial di hari Rabu itu, para terapis tidak memantok tarif para pasien yang datang.
Baca Juga: Mengikis Kesan Pahit, Jamu Kini Bertransformasi dari Minuman Kuno Jadi Solusi Pemulihan Stroke
Pasien hanya membayar seikhlasnya untuk mendapatkan kesehatan.
"Kami benar-benar sedekah keahlian.
Tapi karena banyak pasien yang bingung mau memberi ke siapa, akhirnya kami sediakan kotak infak agar transparan dan tidak menimbulkan kecemburuan antar-terapis," jelasnya, Rabu (22/4).
Meski program bakti sosial itu hanya berjalan seikhlasnya, akan tetapi para terapis yang ikut dalam kegiatan ini tetap melakukannya secara profesional. Mereka tetap melayani para pasien dengan penuh semangat.
"Kami memiliki berbagai macam keterampilan tradisional.
Jadi mereka (terapi) ini sudah terlatih, mereka memiliki dasar-dasar keilmuan yang kalau boleh dibilang itu sudah mumpuni," lontarnya.
Selain menangani pasien secara profesional, lanjut Haryanto, ASDTY juga menyediakan makanan dan minuman (mamin) gratis dalam program bakti sosial.
Sehingga, harapannya pasien-pasien yang datang merasa nyaman. "Jadi kami di sini lebih kekeluargaan. Jadi pasien datang pagi bisa pulang sore," ujarnya.
Menurut Haryanto, saat ini rata-rata pasien yang datang dalam program bakti sosial mencapai 30.
Oleh karena itu, dengan memiliki anggota lebih dari 200 orang, ASDTY berencana mengekspansi program ini ke setiap kelurahan di Jogjakarta.
"Target jangka panjang kami adalah setiap hari Rabu ada bakti kesehatan di tiap kelurahan.
Fokusnya dua, pendataan pasien stroke dan edukasi masyarakat," tegasnya.
Bukan tanpa alasan ASDTY memiliki cita-cita tersebut.
Sebab, menurut Haryanto, pengobatan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan solusi praktis untuk masa depan.
Apalagi, Haryanto menyebut jika ada fakta miris di balik ramainya pasien yang datang di bakti sosial itu.
Tercatat adanya tren peningkatan penderita stroke di DIJ, bahkan mulai merambah usia produktif di bawah 30 tahun.
"Jogja sekarang tren kulinernya dahsyat.
Ini mengubah pola hidup anak muda, sering begadang, minum kopi berlebihan, dan makanan dengan berbagai modifikasi yang belum tentu sehat," cetusnya.
Sementara salah seorang pasien yang rutin datang di program bakti sosial ASDTY Surati mengatakan, sejak rutin mengikuti kegiatan ini wanita asal Purbayan, Kotagede itu mengaku memiliki perkembangan dalam penyembuhan penyakit stroke yang dideritanya.
"Saya terkena stroke tangan dan kaki. Alhamdulillah sudah membaik sejak rutin ikut bakti sosial ini," tandasnya. (laz)
Editor : Herpri Kartun