JOGJA - Angka kejadian kebakaran di Kota Jogja tercatat mencapai belasan kasus pada periode awal tahun ini. Korsleting listrik menjadi penyebab utama. Namun mulai ada ancaman yang timbul dari perilaku pembakaran sampah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja Taokhid mengatakan, dari periode bulan April hingga Maret pihaknya mencatat ada 14 kejadian kebakaran. Pemicu api seluruhnya disebabkan oleh korsleting listrik.
Taokhid mengungkapkan, bahwa korsleting listrik menjadi penyebab utama kebakaran di Kota Jogja karena karena kelalaian manusia. Sebab tidak sedikit masyarakat yang menggunakan instalasi listrik tidak sesuai standar atau berlebihan.
Hal itu terbukti dari belasan kejadian ada dua kebakaran yang disebabkan oleh penggunaan charger handphone. Kebakaran terjadi karena perangkat pengisi daya yang sudah tidak normal atau rusak. Sehingga gagal memutus arus listrik secara otomatis, lalu menimbulkan panas berlebih dan menyulut api.
Baca Juga: Masuk Musim Kemarau, Kualitas Udara di Kota Jogja Diprediksi Memburuk, Partikel Debu Halus Meningkat
“Karena tidak diketahui, tahu-tahu sudah jadi api dan merembet. Itu kan masalah perilaku juga, jadi memang kita harus hati-hati dalam perawatan alat elektronik," ujar Taokhid saat ditemui di kantornya, Rabu (22/4/2026).
Meskipun korsleting perlu diwaspadai, Mantan Camat Tegalrejo itu mewanti-wanti potensi kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas pembakaran sampah. Lantaran di musim kemarau masyarakat cenderung mulai sering melakukan pembakaran sampah. Mungkin karena kondisi limbah rumah tangga yang mudah kering.
Taokhid mengungkap, pihaknya mencatat ada satu kasus kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas pembakaran sampah di bawah Jembatan Gondolayu. Meski tidak ada kerugian materil maupun korban jiwa, peristiwa tersebut sempat menggemparkan karena api yang timbul cukup besar dan perlu dikerahkan dua unit mobil pemadam.
"Seringkali sampah dibakar tapi tidak diawasi, akhirnya merembet. Ini justru yang kami waspadai,” tegasnya.
Terpisah, Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro mendorong adanya penguatan Satuan Tugas Jogja Aman Kebakaran (Satgas Jaka). Sebab program tersebut langsung melibatkan masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran di sebuah wilayah.
Seno menilai, Satgas Jaka harus bisa meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran. Sehingga perlu ditingkatkan intensitas pelatihan, pendampingan, dan pembinaan kepada warga agar berjalan lebih intensif. Terutama di kawasan padat penduduk.
“Disamping itu, pemetaan wilayah rawan kebakaran serta peningkatan sarana keselamatan juga perlu ditingkatkan,” pesannya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin