Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ancaman Gempa Megathrust DIY Masuk Fase 30 Tahun Terakhir, Simulasi Kebencanaan hingga Imbauan Peningkatan Konstruksi Bangunan Dipersiapkan

Agung Dwi Prakoso • Senin, 20 April 2026 | 14:51 WIB
Peta potensi gempa Megathrust. (BMKG)
Peta potensi gempa Megathrust. (BMKG)

 JOGJA- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap ancaman bencana gempa bumi. Sebab, gempa megathrust diprediksi memiliki siklus ulang 200 tahunan dan tahun ini berada pada fase 30 tahun terakhir.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan tengah melakukan pencermatan mikrozonasi atau teknik membagi wilayah besar menjadi zona-zona kecil berdasarkan karakteristik tanah dan kerentanan seismik lokal. Hal itu bertujuan untuk memetakan tingkat guncangan tanah secara detail, mengidentifikasi daerah rawan, dan mendukung pembangunan bangunan tahan gempa guna mengurangi risiko korban jiwa. 

"Ini juga dalam rangka agenda Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB)," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).

Surat Edaran (SE) Gubernur terkait pelaksanaan simulasi terhadap ancaman bencana juga tengah diajukan. SE tersebut akan ditujukan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi swasta, dan seluruh masyarakat, sekaligus memperingati 20 tahun gempa Jogja. Masyarakat diajak untuk mengingat kembali atau memori kolektif secara massal bahwa di DIY pernah terjadi gempa bumi yang cukup besar tahun 2006. 

Baca Juga: Persiapan Maksimal, Persiku Kudus Targetkan Curi Poin Melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo

"Simulasi terkait dengan bagaimana kita melakukan evakuasi dari gempa bumi supaya ada semacam kesiapsiagaan bagi masyarakat," bebernya.

Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak panik dan khawatir. Kesiapsiagaan terhadap potensi bencana perlu ditingkatkan dengan tenang. BPBD DIY juga bekerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB) untuk melakukan simulasi bencana megathrust di wilayah selatan. 

Berdasarkan pengalaman, ia memetakan sejumlah daerah yang rawan bencana gempa bumi, di antaranya pemukiman sepanjang jalur sungai Opak dan Oyo yang termasuk dalam kawasan Sesar Opak. Sebab, gempa tahun 2026 di wilayah tersebut, khususnya di Bantul, menjadi titik episentrumnya. 

Langkah antisipasi yang dilakukan salah satunya melalui imbauan berkaitan dengan pembangunan bangunan rumah maupun fasilitas umum agar tahan gempa. Menurutnya, konstruksi bangunan tahan gempa menjadi salah satu persyaratan dalam kepengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), terutama perkantoran dan fasilitas umum.

Baca Juga: Bulan Mei 2026 Bertabur Tanggal Merah, Libur Panjang di Tiga Akhir Pekan

"Supaya tingkat keselamatan penghuni dari bangunan itu persentasenya menjadi lebih besar ketika kemudian bangunan itu masuk dalam kategori bangunan tahan gempa," tegasnya.

Ia menilai, pasca gempa 2026, masyarakat di DIY mulai sadar pentingnya membuat konstruksi bangunan yang kokoh terhadap gempa. Misalnya, adanya sloof atau balok beton bertulang yang dipasang horizontal di atas pondasi untuk meratakan beban dinding dan kolom ke pondasi, serta mengikat struktur bawah agar stabil. Kemudian pembuatan kolom yang benar dan sebagainya.

"Bahkan ada yang membangun rumah biasa pun dengan memakai cakar ayam," ucapnya. (Oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#siklus ulang 200 tahunan #siklus gempa #siklus gempa megathrust #gempa megathrust #megathrust