JOGJA - Pameran Sumbu Filosofi dan Penanda Sejarahnya sukses digelar selama dua hari mulai 18 dan 19 April 2026 di Stasiun Tugu Jogja.
Animo masyarakat untuk mengunjungi pameran tersebut cukup tinggi, terbukti total ada ratusan kunjungan.
Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan, pameran tersebut bukan seperti pameran seni lukis atau karya ukir pada umumnya.
Konsep pameran lebih menekankan pada materi informasi yang disuguhkan dengan visualisasi modern seperti maket dan sebagainya.
"Ada infografis, miniatur, lukisan sebagai visual untuk membantu menjelaskan kepada pengunjung terkait Sumbu Filosofi," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara TU Wien (Vienna University of Technology) Austria dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI), serta PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta, bersama UPT Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) Dinas Kebudayaan DIY dan UGM-UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management.
Kolaborasi ini memperkuat komitmen lintas institusi dalam menjagadan mengangkat nilai historis Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang sarat makna budaya dan sejarah.
"Ada 30 mahasiswa yang terlibat dalam pameran ini," bebernya.
Menurutnya, pengunjung pameran lebih banyak karena sebagian dari mereka tidak mengisi buku tamu dan hanya melihat-lihat.
Sedangkan dalam buku tamu tertulis ada sekitar 190 kunjungan dalam pameran tersebut. "Hari pertama 90 orang, hari kedua ada 100 orang," tuturnya.
Baca Juga: Bengkel Balap di Sleman Ikut Terdampak Kenaikan Harga BBM Non-subsidi, Berpotensi Merembet ke Upah Buruh
Sebanyak 30 mahasiswa yang terlibat dalam pameran detailnya yakni 10 mahasiswa S1 Prodi Konservasi Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, 10 mahasiswa S1 Prodi Bahasa &Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan 10 mahasiswa S2 Master Arsitektur, Fakultas Teknik UGM.
"Pameran ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) yang jatuh pada 18 April," jelasnya.
EVP Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo menambahkan, pameran tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian pusaka budaya.
Sekaligus mengajak publik memahami nilai-nilai sejarah melalui pendekatan yang lebih inklusif dan edukatif. Pemahaman sejarah di dalamnya dapat digunakan untuk pembelajaran generasi saat ini.
"Stasiun tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, namun juga sebagai ruang interaksi sosial dan budaya," ujarnya.
Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri merupakan warisan budaya yang dirancang oleh Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755.
Kawasan ini mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang terwujud dalam tata ruang, bangunan, tradisi, hingga elemen alam yang tersusun sepanjang garis imajiner dari selatan ke utara, dan Stasiun Yogyakarta juga terletak di dalamnya.
"Kami akan terus mendukung kegiatan edukatif dan kultural yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” bebernya. (oso)