JOGJA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis daftar kota paling maju di Indonesia.
Kota Jogja diketahui menempati urutan kedua setelah Kota Surakarta, Jawa Tengah. Skor Kota Jogja 4,42 sementara Surakarta unggul dengan 4,43.
Merespons hal tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan bahwa wilayah yang dipimpinnya memang memiliki kekurangan dari daya investasi.
Menurutnya, Surakarta lebih unggul karena wilayah tersebut lebih leluasa dalam membuka peluang di bidang investasi.
Baca Juga: Ikan Sapu-sapu Ancaman Serius Ekosistem Sungai, Predator Ikan Lokal dan Merusak Struktur Bangunan
Lewat keleluasaan yang dimiliki Surakarta, dinilai membuat berbagai event yang ada di Surakarta menjadi lebih menarik.
Sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Saya melihat kita ada kalah-kalah sedikit mungkin di bidang investasi."
"Peluang untuk tumbuh dan investasi di Solo itu tidak banyak pembatasan ya, di Jogja harus banyak memperhitungkan banyak hal,” ujar Hasto saat ditemui di kantornya, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Ratusan Ketua DPRD Se-Indonesia Peserta Retret Tiba di Akmil Magelang, Kompak Pakai Seragam Komcad
Kendati menempati urutan kedua, Mantan Bupati Kulon Progo itu tetap bangga Kota Jogja bisa mendapatkan predikat kota maju dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia.
Namun upaya untuk mengejar ketertinggalan dari Surakarta tetap dilakukan.
Hasto mengaku sudah memiliki strategi.
Salah satunya dengan mengembangkan Jogja sebagai kota festival dan kota kreatif.
Upayanya dengan memaksimalkan kehadiran Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) dan mengemas berbagai event yang sudah ada menjadi lebih menarik dan dengan periode yang lebih panjang.
“Misalkan Wayang Jogja Night Carnival, dulu hanya sehari atau paling lama dua hari gitu."
"Kami ingin extend menjadi sepekan supaya mendatangkan lebih banyak turis asing,” katanya.
Untuk diketahui, penilaian yang dilakukan BRIN untuk penilaian kota maju berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.
Penilaiannya mengacu pada 12 pilar utama.
Meliputi aspek institusi, infrastruktur, adopsi teknologi informasi, stabilitas ekonomi, hingga kapabilitas inovasi daerah. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin