Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Yogyakarta Prediksi Kemarau Tahun Ini Lebih Kering, Ini Penyebabnya!

Iwan Nurwanto • Selasa, 14 April 2026 | 18:07 WIB
LANGKA: Ketiadaan pakan hijauan, membuat peternak rumahan asal Playen merumput saat musim kemarau beberapa waktu lalu.
LANGKA: Ketiadaan pakan hijauan, membuat peternak rumahan asal Playen merumput saat musim kemarau beberapa waktu lalu.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mewanti-wanti potensi bencana kekeringan selama periode kemarau tahun ini.

Pasalnya, kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada pertengahan tahun Yogyakarta dimungkinkan menghadapi El Nino lemah hingga moderat. Hal tersebut berpotensi menurunkan curah hujan cukup signifikan.

Baca Juga: Paralegal Bersertifikat Jadi Modal Penting Pengembangan Posbakum Sleman

“Setelah pertengahan tahun 2026 dengan ada peluang penurunan curah hujan dari 50 sampai 60 persen,” ujar Reni dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).

Reni menyebut, curah hujan selama musim kemarau kemungkinan bisa berada dalam kategori bawah normal.

Artinya, kondisi kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. 

Baca Juga: Waspada Ancaman El Nino, Ribuan Tangki Air Bersih Disiapkan: Upaya Antisipasi Potensi Kekeringan Panjang di DIY

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat penting untuk melakukan tindakan antisipasi terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau.

Yakni dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bencana yang disebabkan oleh kekeringan. Misalnya kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Baca Juga: Hujan Abu Tipis Guyur 11 Desa di Kabupaten Magelang; Imbas Awan Panas Guguran Merapi

Reni menjelaskan, bahwa awal musim kemarau di DIY diprediksi terjadi pada dasarian ketiga April dan dasarian pertama bulan Mei.

Kemudian untuk puncaknya kemungkinan terjadi pada bulan Agustus.

Terkait dengan durasi musim kemarau, menurutnya bisa terjadi antara 16 sampai dengan 21 dasarian.

Baca Juga: Dari Delapan Pendaftar, Tujuh Lolos! Kadiskominfo hingga Staf Ahli Ramaikan Bursa Calon Sekda Kota Jogja 

Sementara untuk akhir musim kemarau di Yogyakarta kemungkinan terjadi di dasarian kedua bulan Oktober dan dasrian pertama bulan November.

“Wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis penting untuk mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” pesan Reni. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kemarau 2026 #el nino #bmkg yogyakarta #musim kemarau #bencana kekeringan