Pasalnya, kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada pertengahan tahun Yogyakarta dimungkinkan menghadapi El Nino lemah hingga moderat. Hal tersebut berpotensi menurunkan curah hujan cukup signifikan.
Baca Juga: Paralegal Bersertifikat Jadi Modal Penting Pengembangan Posbakum Sleman
“Setelah pertengahan tahun 2026 dengan ada peluang penurunan curah hujan dari 50 sampai 60 persen,” ujar Reni dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).
Reni menyebut, curah hujan selama musim kemarau kemungkinan bisa berada dalam kategori bawah normal.
Artinya, kondisi kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat penting untuk melakukan tindakan antisipasi terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau.
Yakni dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bencana yang disebabkan oleh kekeringan. Misalnya kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
Baca Juga: Hujan Abu Tipis Guyur 11 Desa di Kabupaten Magelang; Imbas Awan Panas Guguran Merapi
Reni menjelaskan, bahwa awal musim kemarau di DIY diprediksi terjadi pada dasarian ketiga April dan dasarian pertama bulan Mei.
Kemudian untuk puncaknya kemungkinan terjadi pada bulan Agustus.
Terkait dengan durasi musim kemarau, menurutnya bisa terjadi antara 16 sampai dengan 21 dasarian.
Sementara untuk akhir musim kemarau di Yogyakarta kemungkinan terjadi di dasarian kedua bulan Oktober dan dasrian pertama bulan November.
“Wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis penting untuk mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” pesan Reni. (inu)