JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja resmi mencabut status siaga darurat bencana hidrometeorologi bulan ini. Sebelumnya, instansi tersebut melakukan perpanjangan sebanyak empat kali sejak pertama berlaku pada bulan November tahun lalu.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto mengatakan, pencabutan status siaga darurat dilakukan karena potensi bencana yang mulai menurun. Seiring dengan berkurangnya intensitas hujan.
Darmanto menyatakan, berdasar prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bulan April merupakan akhir musim penghujan. Alhasil potensi bencana hidrometeorologi kemungkinan lebih minim.
“Jadi tidak ada perpanjangan surat keputusan walikota untuk status siaga bencana,” ujar Darmanto saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: Bikin Status di Medsos Soal Pertemanan, Basist Thomas Ramdhan Isyaratkan Cabut dari GIGI
Dia mengklaim kejadian bencana pada bulan ini juga turun signifikan dibanding awal tahun yang merupakan puncak musim penghujan. Pada bulan Januari tercatat ada 69 kejadian, lalu di Februari 23 kejadian, Maret sebanyak 11 kejadian, dan April 22 kejadian.
Darmanto menyampaikan, mayoritas kejadian bencana di Kota Jogja disebabkan siklon tropis. Misalnya pohon tumbang, atap rusak, dahan patah, talut ambrol, tebing longsor, hingga banjir luapan sungai.
“Mulai bulan april intensitas hujan sudah menurun dan akhir musim hujan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, awal musim kemarau diprediksi mulai pada dasarian ketiga bulan April. Curah hujan selama bulan ini diprediksi masuk kriteria rendah-menengah dengan intensitas 51-300 mm/bulan.
Meski musim pengunjung akan berakhir, Reni meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Sebab di masa-masa akhir musim penghujan biasanya ditandai dengan perubahan cuaca cepat yang dibarengi hujan lebat dan petir.
Dia juga berharap ada langkah mitigasi untuk mengurangi dampak musim kemarau. Seperti kekeringan kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
“Wilayah yang rentan kekeringan harus lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau,” pesannya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin