Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dari Jalanan ke Pematang, Petani Punk Gunungkidul Jadi Kontrol Sosial di Dapur MBG; Berhasil Gerakkan Ratusan Pemuda Dusun untuk Garap Lahan Pertanian 

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 12 April 2026 | 20:45 WIB
TOP: Para petani punk Gunungkidul saat menggarap lahan pertaniannya. Dok. Komunitas Petani Punk Gunungkidul 
TOP: Para petani punk Gunungkidul saat menggarap lahan pertaniannya. Dok. Komunitas Petani Punk Gunungkidul 

 

JOGJA - Di Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, ada suatu gerakan unik yang diinisiasi anak-anak punk. Nama komunitas itu Petani Punk.  Diinisiasi Pratisna Sibag sejak tahun 2018, gerakan Petani Punk ini bukan sekadar gaya-gayaan. Komunitas ini lahir dari kegelisahan melihat pematang sawah yang kian sepi dari gairah kaum muda.


"Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang," ujarnya saat ditemui di Jogja, Sabtu (11/4).

Baca Juga: 11 Anak Punk Kembali Ditertibkan Satpol PP Bantul, Langsung Diantar ke Terminal untuk Pulang


Sibag mengatakan, sejak berdiri komunitas Petani Punk itu banyak anak-anak punk yang tertarik untuk mengikuti gerakan itu. Ada sekitar 40-an anak jalanan murni yang terdaftar dalam komunitas itu. Mereka yang biasanya akrab dengan debu knalpot, kini diajak akrab dengan lumpur sawah.


Di Karangmojo sendiri, Sibag dan kawan-kawannya telah berhasil mendampingi 120 pemuda di Padukuhan Kalangan. Misi mereka sederhana, meyakinkan anak-anak muda bahwa rupiah bisa dipanen dari tanah sendiri tanpa harus mengadu nasib menjadi buruh di kota besar.


"Itu aneh bagi saya. Daripada habis waktu di kota tapi hasilnya tidak jelas, lebih baik garap lahan di dusun. Kami buktikan kalau bertani itu bisa menghidupi," tuturnya. 

Baca Juga: MBG Lima Hari Dalam Sepekan Berlaku di Seluruh Sekolah di Kulon Progo


Tak perlu waktu lama perjuangan Sibag dan kawan-kawannya mulai membuahkan hasil. Kepercayaan warga mulai tumbuh. Lahan-lahan tidur seluas 800 hingga 1.500 meter persegi dihibahkan cuma-cuma untuk digarap para pemuda.  Hasilnya pun menjadi mesin ekonomi mandiri bagi kegiatan karang taruna, mulai acara 17-an hingga perayaan tahun baru.


Tak hanya itu, kini sebuah babak baru dimulai. Kelompok Petani Punk memutuskan masuk ke dalam pusaran program pemerintah lewat program makan bergizi gratis (MBG). 


Bukan tanpa alasan kelompok Petani Punk mengambil keputusan itu. Sebab, menurut Sibag, langkah ini diambil sebagai kontrol sosial di dalam program tersebut. 


"Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun. Karena kami ada di dalamnya,"  ungkapnya. 


Keputusan yang diambil komunitas Petani Punk itu mendapat dukungan positif dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Yayasan ini ingin berkolaborasi dengan Petani Punk agar para petani lokal, khususnya di Gunungkidul dapat menjadi penyuplai utama bahan pokok di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), dapur MBG.

Baca Juga: Sidak MBG di SPPG Kulon Progo, DPRD Temukan Lele Ukuran Kecil hingga Menu dengan Harga Lebih Tinggi dari Pasaran


"Ke depan akan ada lima dapur MBG di Gunungkidul dan itu akan tepat sasaran menjadi penyuplai atau yang ikut mencari rezeki di sana benar-benar petani lokal," ucap Sekjen Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Teddy Anggoro. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#petani punk #Mbg #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG