JOGJA - Kebijakan bus yang dilarang parkir di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati sejak 14 Februari turut berdampak pada pendapatan tukang becak hingga 50 persen. Mereka lantas menuntut adanya solusi dari pemerintah atas dampak kebijakan itu.
"Kalau bus pariwisata nggak boleh masuk ke situ terus yang diharapkan apa? Penumpang dari mana?," tanya Ketua Paguyuban Becak Prasojo Purwanto Minggu (12/4).
Baca Juga: Alun-Alun Pancasila Kebumen Semrawut, Lari di Jogging Track Diseruduk Mobil-mobilan Listrik
Menurutnya, kebijakan yang awalnya disebut uji coba tidak sesuai. Sebab sejak awal berlaku, sampai saat ini bus tidak boleh parkir di TKP Senopati. Sementara wisatawan yang menggunakan becak, banyak berasal dari rombongan bus pariwisata. "Uji coba masih harus ada jeda waktulah, mungkin ada berapa kali uji coba kan mikirnya gitu. Ternyata kok langsung itu sampai Lebaran itu nggak boleh sampai sekarang," keluhnya.
Meskipun masih ada kendaraan roda empat yang bisa parkir di TKP Senopati, hal itu pun tidak berdampak pada pendapatan tukang becak. “(Penumpang, Red) elf saja itu jarang (pakai becak, Red),” bebernya.
Sebelumnya saat sosialisasi, ada alternatif tawaran yang diberikan Pemkot Jogja dengan pindah ke Giwangan. Namun, tawaran tersebut belum 100 persen disetujui oleh para pelaku wisata di TKP Senopati. "Terlalu jauh kalau di situ," katanya.
Terlebih saat ini, di dalam kota masih memiliki dua kantong parkir bus. Yakni di Menara Kopi, Kotabaru yang merupakan lokasi pindah TKP Abu Bakar Ali (ABA) dan TKP Ngabean. Hanya saja, kedua lokasi ini juga tidak bisa menampung seluruh bus yang masuk. Membuat bus banyak yang terparkir di pinggir jalan. "Akhirnya kan itu sama saja (kemacetan bertambah, Red). Malah lebih memacetkan kalau parkir di jalan-jalan," sindirnya.
Baca Juga: Pengerjaan Proyek Jembatan Kewek Mundur di Bulan Mei, Awal Tahun Depan Baru Bisa Digunakan
Kini, lanjutnya, TKP Senopati semakin sepi. Banyak para pedagang asongan yang ikut pindah ke TKP Ngabean. "Kami tidak masalah ada kebijakan baru, tapi harus diimbangi dengan solusi," pintanya.
Sementara itu, pengelola TKP Senopati Yanto menambahkan, kantong parkir di sisi timur Malioboro ini sejak dulu menjadi tujuan mayoritas bus pariwisata. Dia pun khawatir, kebijakan tersebut menimbulkan efek domino yakni menurunnya wisatawan ke Malioboro. Terlebih, ia juga mendengar banyak pedagang Malioboro yang mengeluh karena dagangannya sepi peminat. "Sektor unggulan perekonomian kita kan dari wisata, bukan dari pabrik atau industri," ujarnya. (oso/eno)