Manager Humas KAI Daop 6 Jogjakarta Feni Novida Saragih, menilai capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api. "Pertumbuhannya positif, kepercayaan masyarakat terus meningkat. Kami akan terus jaga kepercayaan ini dan komitmen menjadi pilihan transportasi yang terus mengutamakan keselamatan, ketepatan waktu, kenyamanan, keamanan, dan pelayanan," ujarnya, Sabtu (11/4).
Baca Juga: Potongan Tubuh Manusia Ditemukan di Tumpukan Sampah Bambu Kalikoteng, Diduga Lansia Gamping Sleman
Menurut Feni, lonjakan penumpang tidak terlepas dari tingginya mobilitas masyarakat pada awal tahun, termasuk momentum hari besar keagamaan, aktivitas kerja, pendidikan, hingga perjalanan wisata.
"Kami mengalami peningkatan signifikan, terutama pada bulan Maret yang mencatat volume tertinggi selama triwulan 2026," kata Feni.
Secara distribusi, Stasiun Jogjakarta dan Lempuyangan masih menjadi simpul utama pergerakan penumpang di wilayah Daop 6. Keduanya mencatat volume keberangkatan dan kedatangan tertinggi dibanding stasiun lainnya.
Sementara itu, stasiun lain seperti Solo Balapan, Klaten, Purwosari, dan Wates juga menunjukkan kontribusi penting dalam menopang mobilitas regional.
Sejumlah kereta favorit pelanggan pada periode ini antara lain KA Senja Utama Solo, KA Mataram, KA Lodaya, KA Senja Utama Jogjakarta, KA Fajar Utama Jogjakarta, KA Joglosemarkerto, KA Progo, KA Sri Tanjung, hingga KA Bengawan.
Feni menegaskan, bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari peningkatan kualitas layanan secara menyeluruh, mulai dari aspek keselamatan hingga kemudahan akses pemesanan tiket.
"Ke depan, KAI Daop 6 akan terus melakukan evaluasi dan pengembangan layanan secara berkelanjutan dan mendukung konektivitas antar wilayah," lanjutnya.
Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ menunjukkan adanya fluktuasi bulanan pada Februari 2026. Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih menyebut, jumlah penumpang kereta api mengalami penurunan secara bulanan setelah periode libur panjang Januari.
Keberangkatan penumpang tercatat turun 19,85 persen dibanding Januari 2026, meski secara tahunan masih tumbuh 1,79 persen dibanding Februari 2025. Sementara, jumlah kedatangan juga turun 17,98 persen secara bulanan dan 1,20 persen secara tahunan.
Diakuinya, perbedaan kecil antara kinerja tahunan keberangkatan dan kedatangan ini mencerminkan dinamika arus penumpang yang sedikit berbeda di dua arah.
"Kemungkinan ini juga dipengaruhi oleh pola perjalanan komuter dan wisatawan yang memang tidak selalu simetris," ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, pengalaman pengguna menunjukkan kereta api masih menjadi pilihan utama untuk mobilitas antarkota. Salah satu pengguna rutin, Ardi Pratama, warga Jogja yang bekerja dengan mobilitas tinggi ke Jakarta, mengaku cukup intens menggunakan layanan KA sepanjang 2026.
"Kalau untuk kerja, saya hampir tiap bulan bolak-balik Jogja-Jakarta. Lebih pasti waktunya, dan sekarang fasilitasnya juga makin nyaman," ujarnya.
Ia juga menilai peningkatan layanan yang dilakukan KAI cukup terasa, terutama dalam hal ketepatan waktu dan kemudahan pemesanan tiket.
Dengan tren pertumbuhan yang tetap positif secara tahunan dan dukungan mobilitas masyarakat yang terus meningkat, KAI Daop 6 Jogjakarta diproyeksikan masih akan menjadi tulang punggung transportasi darat di wilayah DIJ dan sekitarnya sepanjang 2026.
"Kalau saya memang sudah bertahun-tahun pakai kereta api. Jadi memang lebih efisien dibanding moda lain," tuturnya. (iza)