JOGJA - Fenomena harga kemasan plastik yang melambung tinggi ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Namun hal ini justru dinilai berdampak positif, karena berpotensi mengurangi sampah plastik.
Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan, krisis harga material plastik ini menjadi 'titik balik paksa'. Karena strategis mempercepat implementasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Baca Juga: Warga Keluhkan Bau dan Lalat, DLH Sleman Tutup Penyedia Jasa Pengelola Sampah di Mlati
Hal ini pun turut dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendorong pelaku UMKM bisa menggunakan kemasan berbahan dasar alam. Seperti mendong, pandan, dan kelapa. "Bahan itu masih melimpah di DIY sebagai pengganti plastik pelapis atau wadah," ujarnya Selasa (7/4).
Disperindag siap memfasilitasi bimbingan teknis (bimtek) edukasi mengenai eco-design. Kenaikan biaya kemasan dinilai bisa dikompensasi dengan desain yang lebih minimalis namun memiliki nilai jual yang lebih tinggi sebagai produk premium ramah lingkungan.
Baca Juga: Terdampak Tol Jogja-Solo, Bangunan di Pinggir Ring Road Utara Maguwoharjo Sleman Diratakan
"Membantu UMKM mendapatkan label ramah lingkungan (ekolabel) atau sertifikasi terkait lainnya agar produk mereka memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar ekspor atau ritel modern yang sudah menerapkan kebijakan bebas plastik," bebernya.
Disperindag juga siap menghubungkan UMKM secara langsung dengan produsen kemasan.ramah lingkungan lokal untuk memotong rantai distribusi, sehingga harga bisa ditekan melalui skema pembelian kolektif (bulk buying). Kemudian untuk produk ramah lingkungan akan mendapatkan slot promosi khusus di portal niaga lokal. Misalnya aplikasi SiBakul Jogja, guna menarik segmentasi konsumen yang memiliki kesadaran ekologi tinggi.
Baca Juga: Sedang dalam Motivasi Tinggi, PSS Sleman Siap Kalahkan Barito Putera FC di Stadion Demang Lehman Kalsel
"Pemberian hibah mesin pengolah atau pengemas non-plastik bagi sentra-sentra UMKM tertentu melalui dana keistimewaan (danais)," jelasnya.
Sementara penjual jajanan pasar keliling Yanti mengaku, saat ini sudah mengurangi penggunaan plastik. Dia lebih memilih menggunakan kemasan yang bisa dipakai kembali. "Ini kemungkinan bisa mengurangi sampah plastik," harapnya.
Penjual sayur di Pasar Beringharjo, Ida Chabibah, mengatakan mulai aktif menyarankan kepada pembeli yang datang ke pasar agar membawa wadah atau kantong yang tidak sekali pakai. Misalnya dengan tas karung goni dan bahan material lain yang bisa dicuci. "Biar tidak nyampah juga kan," bebernya. (oso/eno)