Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Anjlok! Okupansi Hotel di Yogyakarta Hanya Sentuh 60 Persen, Tak Sesuai Ekspektasi: Ini Alasannya

Iwan Nurwanto • Senin, 6 April 2026 | 19:50 WIB
Suasana transaksi jual beli di Pasar Beringharjo sisi barat, Kota Jogja, Kamis (2/4/2026). Okupansi hotel DIJ turun ke 70 persen saat libur Lebaran kemarin meski kunjungan wisata naik karena dipicu daya beli melemah dan pergeseran ke homestay atau villa. (Guntur Aga Tirtana/Radar)
Suasana transaksi jual beli di Pasar Beringharjo sisi barat, Kota Jogja, Kamis (2/4/2026). Okupansi hotel DIJ turun ke 70 persen saat libur Lebaran kemarin meski kunjungan wisata naik karena dipicu daya beli melemah dan pergeseran ke homestay atau villa. (Guntur Aga Tirtana/Radar)

 JOGJA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat angka okupansi rendah pada momen libur panjang Paskah.

Kondisi ini hampir serupa dengan libur Lebaran yang tingkat huniannya tidak maksimal atau tak lebih dari 70 persen.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, selama periode libur panjang dari tanggal 3 hingga 6 April 2026 rata-rata okupansi hotel berada di kisaran 40 sampai 60 persen.

Baca Juga: Kejari Segera Umumkan Tersangka Baru Kasus Hibah Pariwisata Sleman, Awal Pekan Depan Hakim Putuskan Vonis Mantan Bupati Sri Purnomo

Angka tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi para pengusaha hotel.

“Di momen libur Paskah ini ada kenaikan 10 persen dibandingkan hari biasa,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Deddy menyebut, kondisi serupa juga terjadi pada masa libur Lebaran beberapa waktu lalu.

Di libur panjang hari besar umat muslim itu okupansi hotel hanya menyentuh angka maksimal di 65 persen. Jauh dari target yang ditentukan pada kisaran 85 persen.

Baca Juga: Tim SAR Gabungan di Kebumen Sisir Aliran Sungai dan Garis Pantai Cari Dua Korban Hilang  

Menurutnya, jebloknya tingkat hunian hotel disebabkan karena daya beli masyarakat yang menurun.

Lantaran situasi ekonomi yang tidak baik-baik saja dampak dari efisiensi bahan bakar minyak (BBM).

Deddy menduga, rendahnya okupansi hotel  momen libur Lebaran karena imbas informasi dari pemerintah terkait dengan prediksi keramaian hingga 8,2 juta wisatawan di Yogyakarta.

Baca Juga: Hadapi Porda 2027, Pesan KGPAA Paku Alam X Kepada Pemkab Kulon Progo: Tak Boros Anggaran Pembangunan Fokus Pembinaan Atlet

Hal tersebut dinilai membuat banyak wisatawan yang urung menginap di Jogjakarta dan memilih untuk menginap di luar daerah. Seperti Kebumen atau Wonosobo.

Padahal sebenarnya ketersediaan kamar di Yogyakarta sangat mencukupi.

“Prediksi dikunjungi jutaan orang itu malah bikin orang takut datang. Wisatawan takut jalanan padat dan khawatir tidak kebagian kamar,” bebernya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#anjlok #libur paskah #phri diy #okupansi hotel #libur lebaran