JOGJA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat angka okupansi rendah pada momen libur panjang Paskah.
Kondisi ini hampir serupa dengan libur Lebaran yang tingkat huniannya tidak maksimal atau tak lebih dari 70 persen.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, selama periode libur panjang dari tanggal 3 hingga 6 April 2026 rata-rata okupansi hotel berada di kisaran 40 sampai 60 persen.
Angka tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi para pengusaha hotel.
“Di momen libur Paskah ini ada kenaikan 10 persen dibandingkan hari biasa,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Deddy menyebut, kondisi serupa juga terjadi pada masa libur Lebaran beberapa waktu lalu.
Di libur panjang hari besar umat muslim itu okupansi hotel hanya menyentuh angka maksimal di 65 persen. Jauh dari target yang ditentukan pada kisaran 85 persen.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan di Kebumen Sisir Aliran Sungai dan Garis Pantai Cari Dua Korban Hilang
Menurutnya, jebloknya tingkat hunian hotel disebabkan karena daya beli masyarakat yang menurun.
Lantaran situasi ekonomi yang tidak baik-baik saja dampak dari efisiensi bahan bakar minyak (BBM).
Deddy menduga, rendahnya okupansi hotel momen libur Lebaran karena imbas informasi dari pemerintah terkait dengan prediksi keramaian hingga 8,2 juta wisatawan di Yogyakarta.
Hal tersebut dinilai membuat banyak wisatawan yang urung menginap di Jogjakarta dan memilih untuk menginap di luar daerah. Seperti Kebumen atau Wonosobo.
Padahal sebenarnya ketersediaan kamar di Yogyakarta sangat mencukupi.
“Prediksi dikunjungi jutaan orang itu malah bikin orang takut datang. Wisatawan takut jalanan padat dan khawatir tidak kebagian kamar,” bebernya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita