JOGJA - Fenomena geng pelajar atau geng remaja di Jogja secara umum masih terus menjadi sorotan, terutama karena pola dan skalanya yang kian berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Aktivitas kelompok remaja yang dulunya bersifat terbatas kini berubah menjadi lebih terorganisasi, cepat, dan luas melalui peran media sosial.
Dosen Hubungan Internasional dan Guru Besar Bidang Keamanan Manusia Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr Sidik Jatmika menilai, perkembangan teknologi telah mengubah lanskap interaksi sosial remaja secara signifikan. Disebutkan, saat ini media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan menjadi ruang utama dalam membentuk identitas hingga eksistensi kelompok.
"Medsos sekarang menjadi arena utama remaja menunjukkan siapa mereka. Di situ geng terbentuk, diperkuat, dan dipertontonkan ke publik," ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, hampir seluruh remaja saat ini hidup dalam ekosistem digital yang sangat aktif. Hal ini secara tidak langsung juga membuat dinamika kelompok menjadi lebih cair sekaligus lebih berisiko.
"Teknologi mempercepat mobilisasi. Koordinasi bisa dilakukan hitungan menit melalui grup pesan instan. Dari situ, aksi di lapangan bisa terjadi tanpa banyak hambatan," jelasnya.
Ia juga menambahkan, budaya viral yang berkembang di media sosial turut memperparah fenomena ini. Remaja terdorong untuk melakukan aksi ekstrem demi mendapatkan pengakuan dalam bentuk likes, views, dan komentar.
"Ada semacam dorongan psikologis untuk diakui. Validasi digital itu nyata bagi mereka, dan seringkali mendorong tindakan yang makin berani, bahkan berbahaya," kata pria yang mantan jurnalis saat masih jadi mahasiswa.
Fenomena itu salah satunya terlihat dalam beberapa kasus klithih di wilayah Yogyakarta yang tidak hanya berupa tawuran. Tetapi juga tindakan kekerasan acak sebagai bentuk eksistensi kelompok.
"Ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa. Ini sudah masuk ke bentuk kekerasan sosial yang diproduksi, direkam, dan disebarluaskan," tegasnya.
Baca Juga: Pakai Lahan Sawah Dilindungi, Pembangunan Sekolah Rakyat Margodadi Masih Tunggu Moratorium
Di sisi lain, ia menekankan masa remaja memang merupakan fase yang sangat rentan. Pada fase ini, individu berada dalam posisi transisi yang tidak stabil, baik secara mental maupun emosional.
"Remaja itu fase yang serba tanggung. Mereka tidak mau lagi dianggap anak-anak, tetapi secara psikologis dan emosional juga belum matang sebagai orang dewasa. Ini membuat mereka mudah terpengaruh," paparnya.
Dalam kondisi itu, kebutuhan akan pengakuan dan penerimaan sosial menjadi sangat tinggi. Geng atau kelompok sebaya kemudian hadir sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan tersebut, meskipun sering kali mengarah pada perilaku menyimpang.
Karena itu, Sidik menegaskan pentingnya peran keluarga, khususnya orangtua, dalam mencegah keterlibatan remaja dalam sebuah geng. "Orang tua harus memberi teladan dan hadir di masa tumbuh kembang anak. Tidak hanya secara fisik, tapi juga peran. Mereka role model pertama yang dilihat dan dikenal oleh anak," ujarnya.
Ia menilai, banyak kasus geng pelajar salah satunya berakar dari lemahnya relasi antara anak dan orang tua. Ketika ruang komunikasi di keluarga tidak berjalan optimal, remaja cenderung mencari pengganti di luar, termasuk dalam kelompok geng.
"Kalau keluarga tidak menjadi tempat yang nyaman, remaja akan mencari identitas di luar. Dan geng seringkali menawarkan itu, rasa memiliki, solidaritas, dan pengakuan," katanya.
Selain faktor keluarga, ia juga menyoroti peran lingkungan sosial dan sistem pendidikan yang perlu lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Literasi digital, menjadi salah satu kunci penting dalam membentengi remaja dari dampak negatif teknologi.
"Pendekatannya tidak bisa parsial. Harus dari keluarga, sekolah, dan pemerintah. Semua harus hadir dalam membentuk ekosistem yang sehat bagi remaja," paparnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun