Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Maraknya Kekerasan Antargeng Pelajar di Yogyakarta; Gladiator Jadi Hal Biasa, Dulu Sparing Tidak Pakai Sajam, Kini Mengarah Kriminalitas

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 5 April 2026 | 20:35 WIB
Ilustrasi fenomena maraknya kekerasan antargeng pelajar di Yogyakarta.
Ilustrasi fenomena maraknya kekerasan antargeng pelajar di Yogyakarta.

JOGJA - Fenomena kekerasan di kalangan pelajar kini mulai berkembang ke arah yang membahayakan. Terbaru, ada aksi gladiatoran sebagai syarat untuk keluar dari geng sekolah. Radar Jogja berkesempatan menemui anggota geng sekolah maupun mantan salah satu pentolan geng pelajar era 2010-2013.

Belakangan, ada fenomena yang disebut gladiator atau duel satu lawan satu antarpelajar di Kota Jogja. Aksi ini menjadi semacam ujian bagi para calon anggota baru maupun mereka yang ingin memisahkan diri dari kelompok.

Salah satu pelaku klithih atau geng pelajar berinisial H mengatakan, fenomena gladiator atau yang ia sebut GD itu memang sudah menjadi hal lumrah di kalangan geng pelajar di Yogyakarta. Menurutnya aksi itu biasanya dilakukan berduet dengan kakak kelas ataupun geng lain sekolah.

Baca Juga: Pakai Lahan Sawah Dilindungi, Pembangunan Sekolah Rakyat Margodadi Masih Tunggu Moratorium

"Tapi emang itu biasanya dilakukan dengan kakak kelas," ucapnya insial H, Minggu (5/4/2026). Akan tetapi, lanjut H, selain gladiator, ada beberapa persyaratan lain jika seseorang ingin masuk atau keluar geng.

Masing-masing kelompok memiliki persyaratan tersendiri untuk para personilnya. "Intinya kalau mau keluar ada persyaratannya. Misal disuruh ambil atribut sekolah lain atau disuruh open fight (duel satu lawan satu tanpa senjata) sama kakak kelas. Kalau tidak, ya itu bisa GD atau bacok-bacokan," lontarnya.

Meski begitu, H menyebut jika aksi gladiator itu sebenarnya memiliki aturan main tersendiri. Misal salah satu sudah ada yang jatuh, maka tidak boleh dibacok.

Baca Juga: Cium Foto Suami sambil Menatap Makamnya, Kopda (Anm) Farizal  Dikebumikan di TMP Wates, Serka (Anm) Ichwan di Magelang

"Itu biasanya malam atau dini hari, cari tempat sepi. Intinya kalau sudah kena, misal sudah bonyok keluar darah, ya sudah selesai. Intinya yang menang yang gitu," ungkapnya.

Menurut H, berbagai persyaratan untuk masuk geng sekolah, termasuk gladiator biasanya dilakukan dengan menguji mental anak baru atau yang akan keluar ke dari geng itu. "Iya, kebanyakan kayak gitu, rata-rata geng sekolah di Jogja," tandasnya.

Baca Juga: Menunggu sejak Sore, Warga Antre Salatkan Almarhum saat Jenazah Serka (Anm) Ichwan Tiba di Magelang

Terpisah, Siblek (bukan nama sebenarnya) merupakan orang yang cukup aktif dalam salah satu geng SMA di Kota Jogja. Geng sekolahnya bisa dikatakan mentereng pada masanya. Lantaran sering terlibat kegiatan tawuran antarsekolah.

Pria yang kini berusia 30 tahun itu menilai, kenakalan remaja saat ini justru lebih menjurus ke tindakan kriminal. Sebab, bentuk perkelahian menggunakan senjata tajam. Contohnya seperti gladiatoran yang mewajibkan perkelahian menggunakan celurit untuk keluar dari geng Vascal.

"Dulu kalau kami ada masalah antaranggota geng, ya diselesaikan dengan tangan kosong. Berkelahi sampai salah satu kalah, lalu damai,” ujar Siblek kepada Radar Jogja, Minggu (5/4/2026).

Terkait fenomena perkelahian remaja yang menggunakan senjata tajam seperti sekarang, Siblek mengaku tidak tahu pasti. Namun kemungkinannya karena pengaruh sosial media. Sebab, sering berseliweran konten-konten tawuran pelajar di Tiktok atau Instagram.

Baca Juga: Masih Ditemukan Reklame Ilegal, DPRD Gunungkidul Siapkan Raperda untuk Perkuat Pengawasan dan Dongkrak PAD

Siblek menduga, kehadiran konten tawuran di platform media sosial yang menggunakan sajam membuat para remaja saat ini terpengaruh. Bahkan juga tidak takut lagi untuk melukai atau membunuh lawannya.

"Sekarang fenomenanya beda banget. Dulu tawuran mentok cuma pakai batu sama bambu. Sementara sparingan pakai tangan kosong, tidak berani sampai membunuh karena takut masuk penjara,” katanya.

Lebih lanjut mantan anggota geng yang kini bekerja sebagai pegawai swasta ini juga turut menyoroti penggunaan minuman keras untuk perkelahian. Di masanya, minuman keras hanya dikonsumsi ketika nongkrong atau selesai tawuran.

Baca Juga: Untidar Siap Gelar UTBK 2026 dengan Hadirkan Perubahan Sistem Teknologi, Mekanisme Booting Diklaim Cegah Kecurangan

Karena, menurutnya, konsumsi minuman keras sebelum tawuran atau berkelahi dapat membuat kalah atau jadi bulan-bulanan lawan. Dia menduga hal itu bisa menjadi salah satu faktor kenakalan remaja, perkelahian atau tawuran tidak terkontrol.

"Saya waktu SMA mabuk hanya pas teman-teman lengang saja. Kalau mau tawuran, malah tidak pernah. Soalnya kalau mabuk di jalan malah repot dan ngerepotin,” ujarnya.

Bedanya dengan sekarang, lanjut Siblek, apa-apa mabuk, mau jalan-jalan mabuk, mau berkelahi mabuk. "Mungkin itu yang membuat remaja sekarang nekat-nekat," ungkapnya Siblek. (ayu/inu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Kekerasan Antargeng Pelajar #Gladiator #Klithih #geng sekolah #Kriminalitas