JOGJA - Libur Lebaran tahun ini tampaknya menjadi anomali bagi para pelaku usaha hotel dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pergerakan masyarakat hingga kunjungan wisatawan naik, namun jumlah okupansi di hotel malah mengalami penurunan.
Beberapa dinas terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY telah merilis data pergerakan masyarakat periode Lebaran tahun ini. Dari Dishub DIY mencatat ada 8,3 juta mobilitas orang. Kemudian dari Dinas Pariwisata (Dinpar) juga mencatat ada 1,9 juta wisatawan yang berkunjung di destinasi wisata di DIY. Semuanya mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu dalam periode yang sama.
Namun, di sisi lain, sektor hotel dan restoran di DIY malah mengalami penurunan jumlah okupansi. Wakil Sekretaris Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Wahyu Wikan Trispratiwi mengatakan rata-rata okupansi hotel di DIY dalam kurun 20 sampai 26 Maret sebesar 70 persen. Padahal, di periode yang sama pada tahun lalu rata-rata okupansi sebesar 80 persen.
"Ada penurunan dibanding tahun lalu, sekitar 10 hingga 5 persen," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan data anggota PHRI DIY, sebaran hotel di DIY paling banyak ada di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Ada sebanyak 70 persen anggota dari dua daerah tersebut. "30 persen sisanya dari Kulon Progo dan Gunungkidul," imbuhnya.
Menurutnya, salah satu faktor menurunnya okupansi hotel disebabkan karea daya beli masyarakat secara umum yang ikut turun. Pergerakan masyarakat tinggi, namun banyak yang tidak menginap di hotel, khususnya di penginapan milik anggota PHRI DIY.
"Padahal harga kamar tahun ini tergolong turun sekitar lima persen," bebernya.
Selain lesu nya daya beli masyarakat, banyaknya home stay dan juga villa ilegal juga menjadi faktor menurunnya okupansi hotel. Ia menilai, secara harga menginap di hotel maupun villa lebih hemat jika untuk rombongan. Satu villa bisa dihuni ooleh lebih dari lima orang.
"Kami berharap, pemerintah mendata home stay dan villa. Supaya terjadi kompetisi yang sehat. Mayoritas home stay dan villa di DIJ kan tidak ada pajak dan sebagainya," ucapnya.
Ia tidak menampik adanya annomali yang terjadi. Sebab, ia juga menyadari masyarakat yang datang ke DIY tidak semuanya menginap di hotel. Banyak keluarga yang menginap di rumah saudaranya sekalian untuk silaturahmi.
"Jadi kalau dilihat dari data pergerakan masyarakat dan kunjungan destinasi bisa naik," jelasnya.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menambahkan, target awal tingkat hunian hotel selama Lebaran di DIY bisa menyentuh angka 85 persen. Namun, faktanya hanya bisa menyentuh angka 70 persen.
"Penurunan okupansi hotel ini tidak hanya terjadi di DIY, tetapi juga di sejumlah daerah lain akibat menurunnya daya beli masyarakat secara nasional," ujarnya.
Baca Juga: Bojan Hodak Waspadai Kebangkitan Semen Padang, Sebut Motivasi Kabau Sirah Bisa 200 Persen
Terpisah, Kepala Dinpar DIY Imam Pratanadi membenarkan adanya penurunan tingkat okupansi hotel pada Lebaran tahun ini dibandingkann dengan tahun lalu. Sampai akhir masa liburan hanya 70 persen atau turun lima persen.
"Angka tersebut tidak mencapai target dari PHRI yang memperkirakan okupansi hotel sebesar 85% tetapi mencapai target okupansi yang ditetapkan Dinpar DIY sebesar 64%," ujarnya.
Faktor penurunan sama seperti yang disampaikan pihak PHRI DIY yakni karena daya beli masyarakat yang lesu. Wisatawan cenderung mencari akomodasi yang lebih murah seperti homestay dan penginapan lainnya.
"Kami akan mengoptimalkan promosi digital, pengembangan event berbasis budaya, peningkatan kualitas layanan destinasi, serta kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata," jelasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin