RADAR JOGJA - Hujan masih mengguyur wilayah DIY meskipun musim kemarau sudah tiba.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikal (BMKG) menjelaskan hal ini.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas menjelaskan kondisi dinamika atmosfer-laut.
Disebutkan bahwa muslim kemarau datang pada dasarian III, mulai bulan April.
Diawali dengan curah hujan 5 ZOM (zona musim) hingga 62,5% dan dasarian I Mei 2026 3 ZOM (37,5%).
Sifat hujan musim kemarau 2026 diprediksi Bawah Normal (BN) 7 ZOM (87,5%)
dan Normal (N) 1 ZOM (12,5%).
"Adapun puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus mendatang," terang Reni.
Durasi musim hujan 2025/2026 di DIY diprediksi bervariasi antara 16 -
18 dasarian sebanyak 1 ZOM (12,5%), 19 – 21 dasarian sebanyak 7 ZOM (87,5%).
Jumlah curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi antara 250 – 400 mm.
Akhir musim kemarau 2026 di DIY diprediksi pada dasarian II Oktober
dan dasarian I November 2026.
Baca Juga: Redam Kebangkitan Chelsea, Arsenal ke Semifinal UWCL
Adapun prediksi dinamika atmosfer-laut terkini, angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur mengindikasikan
Monsun Australia mulai aktif.
Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam kategori netral hingga pertengahan tahun 2026.
Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY, antara
-2.0°C s/d 0.5°C (kategori dingin - netral), dengan suhu berkisar antara
28°C s/d 29°C.
Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) kondisi netral, diprediksi akan tetap netral hingga pertengahan tahun 2026.
Pada bulan Juli hingga akhir tahun 2026 terjadi fenomena El Niño dengan kategori lemah hingga moderat dengan peluang
50–60%.
Baca Juga: Bek Manchester United Harry Maguire Kena Sanksi FA, Ini Dia Alasannya
BMKG menghimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada masa akhir musim hujan yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
Selanjutnya, melakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang.
Serta, memastikan struktur bangunan dan baliho dalam
kondisi kuat, guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa
pancaroba.
Fenomena El Nino
El Nino masih berpotensi terjadi bersamaan dengan musim kemarau ke depan.
Fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat diprediksi mulai terjadi
pada bulan Juli hingga akhir tahun 2026 dengan peluang 50-60%.
Adapun persiapan untuk menghadapi dampak musim kemarau yang bersamaan dengan
fenomena El Nino yaitu, waspada potensi kekeringan ekstrem, sesudah puncak musim kemarau (Juli – September 2026).
Mewaspadai prediksi curah hujan selama musim kemarau 2026 di Bawah Normal
(BN), yang artinya kondisi musim kemarau diprakirakan lebih kering dibandingkan
rata-rata klimatologisnya.
Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau.
Yakni dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen dan wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis untuk mengambil langkah antisipasif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien.
Informasi iklim dari BMKG Stasiun Klimatologi sewaktu-waktu diperbaruhi. (mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva