JOGJA- Ada pemandangan menarik dalam prosesi Kirab Budaya Peringatan Mangayubgya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026). Dari masing-masing kalurahan yang membawa komoditas andalan, rombongan Kalurahan Banjaroyo memilih durian lokal Kalibawang sebagai hadiah untuk rajanya.
Semerbak aroma durian tercium di sepanjang jalan Titik Nol Kilometer menuju Keraton Jogja. Sepintas masyarakat yang berada di pinggir jalan tertarik dengan aroma tersebut dan mencari tahu dari mana sumbernya. Peserta kirab dari Kalurahan Banjaroyo lah yang membawa tumpukan durian tersebut.
"Kalurahan kami memang terkenal penghasil durian, makanya kami persembahkan di acara ini," ujar Lurah Banjaroyo Pius Cahya saat ditemui di sekitar Alun-Alun Utara, Jogja, Kamis (2/4/2026).
Kalibawang merupakan daerah di Kulon Progo yang terkenal dengan varietas durian lokal yang menasional. Karena setiap kalurahan menghadiahkan komoditas unggulan masing-masing, mereka inisiatif untuk membawa durian.
"Kami ada 17 peserta kirab, semuanya mengenakan pakaian adat Jawa gaya Jogja," bebernya.
Ada belasan durian yang ditenteng oleh empat peserta kirab. Selain durian, beberapa hasil bumi lain seperti pete, pisang, dan sayur-sayuran juga dibawa dalam kirab tersebut.
Lurah Kalurahan Banjarharjo, Susanto, menambahkan peserta kirab yang dibawa sebanyak 15 peserta. Hasil bumi yang dibawa yakni pisang, jagung, dan sayuran lain. Hampir mirip dengan kalurahan lain dari Kalibawang.
"Yang spesial ada lele asap, karena tempat kami itu produksi lele-nya cukup tinggi," imbuhnya.
Momentum peringatan Mangayubagya Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-80 tahun ini, ia berharap agar Raja Keraton Jogja itu senantiasa diberi kesehatan dan kesabaran.Selain itu, dapat memimpin masyarakat Jogja untuk terus menjadi lebih baik ke depannya.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan "NAYANTAKA" Gandang Hardjanta mengatakan hasil bumi yang dibawa oleh seluruh peserta kirab merupakan Gelondong Pangarem-arem sebagai bentuk penyampaian pesan Jogja yang mengedepankan gotong-royong.
"Itu kami serahkan ke Keraton tapi dibagikan kembali kepada masyarakat melalui bapak ibu bupati/walikota," ujarnya.
Berdasarkan laporan yang ia dapat, ada sebanyak 12 ribu peserta yang mengikuti kirab. Acara yang baru kali pertama dilaksanakan selama Sri Sultan jumenengan itu.merupakan ucapan terima kasih karena telah mengayomi masyarakat.
Menurutnya, agenda tersebut merupakan inisiatif dari para lurah yang tergabung dalam Paguyuban Nayantaka. Persiapannya dilakukan selama dua bulan sebelum penyelenggaraan dengan melakukan sosialisasi ke lurah di seluruh kalurahan di DIY.
"Semuanya menyambut baik, tidak ada unsur paksaan dan sadar," ucapnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin