JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta masyarakat waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Pasalnya, ada sejumlah kondisi yang memicu hujan deras untuk beberapa hari terakhir.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, berdasar hasil analisis dinamika atmosfer terkini pihaknya mendeteksi aktifnya Gelombang Rossby. Fenomena tersebut memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah Pulau Jawa.
Selain itu, Feri menyatakan bahwa penumpukan awan hujan juga dapat terjadi karena munculnya pola konvergensi di sekitar Laut Jawa dan terjadinya belokan angin di Samudera Hindia. Kemudian juga didukung suhu muka laut dalam skala harian dan mingguan yang terpantau relatif hangat sekitar 28-30 derajat celcius.
“Masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak yang dapat terjadi dalam waktu singkat selama periode transisi ini,” ujar Feri saat dikonfirmasi, Selasa (31/3/2026).
Berdasarkan prediksi BMKG, sejumlah wilayah akan diguyur hujan untuk tiga hari kedepan. Misalnya pada 1 April 2026 ada potensi hujan sedang hingga lebat di Sleman, Kota Jogja, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul bagian selatan.
Kemudian di tanggal 2 April 2026 untuk wilayah Sleman, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara diprediksi diguyur hujan ringan hingga sedang. Sementara untuk tanggal 3 April 2026 ada kemungkinan hujan intensitas sedang di Sleman, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara.
Disamping mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan yang dapat disertai dengan angin kencang. Feri juga menghimbau agar masyarakat dan pemerintah daerah melakukan antisipasi bencana yang diakibatkan oleh musim kemarau. Sebab saat ini merupakan masa peralihan musim.
“Jaga kesehatan saat cuaca panas dengan cukup minum, membatasi aktivitas siang hari, dan menghindari risiko kebakaran,” pesannya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan bahwa mitigasi bencana menjadi hal penting di tengah ancaman cuaca ekstrem. Sehingga dia meminta agar masyarakat mengenali betul kondisi di sekitar tempat tinggal.
Baca Juga: Sebulan Lagi Pulang, Prajurit TNI Asal Magelang yang Gugur di Lebanon Tinggalkan Istri dan Bayi
Nur menyatakan, selama potensi cuaca ekstrem masih ada pihaknya juga telah menyiagakan seluruh unsur. Baik itu personel maupun peralatan yang digunakan untuk penanganan bencana.
“Dari total 169 kampung masing-masing juga telah dibentuk Kampung Tangguh Bencana (KTB), supaya mendorong kemandirian masyarakat mitigasi dan menangani bencana,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin