Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Libur Panjang Lebaran Okupansi Hotel di Jogjakarta Kurang Maksimal, PHRI Ungkap Penyebabnya

Iwan Nurwanto • Senin, 23 Maret 2026 | 16:36 WIB

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono pasca-pertemuan dengan Gubernur DIY HB X di Kompleks Kepatihan, Jogja, Senin (22/12/2025).
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono pasca-pertemuan dengan Gubernur DIY HB X di Kompleks Kepatihan, Jogja, Senin (22/12/2025).

JOGJA - Harapan pelaku usaha perhotelan di Jogjakarta untuk meraup untung maksimal di masa libur panjang lebaran tahun ini tampaknya meleset. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkap penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pada periode tanggal 16 hingga 22 Maret 2026 tingkat hunian hotel di Jogjakarta hanya menyentuh rata-rata 40 sampai 65 persen. Capaian tertinggi hanya di tanggal 21 dan 22 Maret 2026 dengan okupansi 75 persen.

Catatan okupansi hotel itu mengalami penurunan dibandingkan dengan musim libur lebaran tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, tingkat hunian hotel di DIY bisa menyentuhnya rata-rata hingga 75 persen. Sehingga menurun 10 persen pada tahun ini.

Deddy menilai, ada berbagai faktor yang membuat okupansi hotel di DIY mengalami penurunan. Penyebab paling kuat karena daya beli masyarakat menurun akibat kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. 

Lalu faktor kedua karena prediksi kunjungan 8,2 juta wisatawan ke Jogjakarta. Sehingga membuat banyak wisatawan enggan berwisata karena takut terjebak macet dan tidak mendapatkan kamar hotel saat menjalani liburan.

“Kemudian, wisatawan mungkin juga pilih-pilih akomodasi. Seperti menginap di penginapan ilegal,” ujar Deddy saat dikonfirmasi, Senin (23/3/2026).

Pengusaha hotel di Kemantren Mantrijeron ini menyebut, penurunan okupansi hotel juga tidak hanya terjadi di DIY. Namun juga sejumlah daerah. Sebab daya beli masyarakat yang menurun terjadi secara nasional.

Deddy menyatakan, okupansi hotel di masa libur panjang lebaran tahun ini juga meleset jauh dari target yang sebelumnya ditentukan. Sebelumnya, PHRI DIY memprediksi tingkat hunian pada masa libur hari raya umat muslim itu bisa menyentuh minimal di angka 85 persen. Namun hanya mampu di angka maksimal 65 persen.

Padahal, kata dia, anggota PHRI DIY ini sudah menyiapkan berbagai promosi untuk menarik minat wisatawan supaya menginap di hotel pada libur lebaran tahun ini. Misalnya dengan paket bundling menginap dengan makan malam serta hiburan. Serta memberikan harga menarik jika wisatawan memesan langsung lewat hotel.

“Okupansi hotel tahun ini belum bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu, malah cenderung menurun,” beber Deddy.

Sementara itu, salah satu pemudik asal Surabaya Jawa Timur, Evita Dewi mengaku memang tidak menginap di hotel. Dia bersama dengan keluarganya lebih memilih menginap di rumah kerabatnya yang berada di Sleman selama liburan.

Baca Juga: Cucu Mpok Nori Tewas Dibunuh Suami Siri, Polisi Ungkap Motifnya!

Perempuan 28 tahun ini menyebut, alasannya menginap di rumah kerabat untuk menghemat biaya. Sekaligus supaya lebih dekat dengan sanak saudaranya karena ingin menjalani kegiatan trah selama di Jogjakarta.

“Sejak sampai di Jogja Minggu (22/3/2026) memang tidak ingin menginap di hotel, karena liburannya cuma sampai Selasa (24/3/2026). Jadi ke Jogja ikut acara trah, ke Malioboro, lalu kembali ke Surabaya,” ungkapnya. (inu)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perhotelan #Okupansi Rendah #phri diy #Wisata #usaha #pelaku