Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peneliti Puspar UGM Sebut Lonjakan Wisatawan ke DIY Tak Diiringi Daya Beli

Fahmi Fahriza • Rabu, 18 Maret 2026 | 20:30 WIB
Wisatawan melintas di kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja Selasa (17/3).
Wisatawan melintas di kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja Selasa (17/3).
 
JOGJA - Libur panjang Idul Fitri 2026 diproyeksikan menjadi puncak pergerakan wisatawan nusantara di berbagai daerah. Termasuk DIY yang masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan, baik lokal maupun internasional.
 
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, sebanyak 8,2 juta orang diperkirakan akan melakukan perjalanan menuju DIY selama periode libur lebaran tahun ini. Angka tersebut jauh melampaui jumlah penduduk DIY yang hanya berkisar 3,7 hingga 3,8 juta jiwa. Menandakan tingginya mobilitas masuk ke wilayah ini.
 
 
Meski demikian, peneliti Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (Puspar UGM) Dr Destha Titi Raharjana memperkirakan, jumlah wisatawan yang benar-benar berwisata di DIY hanya akan berada di angka sekitar 1,46 juta orang. Dengan konsentrasi utama di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman.
 
"Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang makin mendekati pusat kota, jalur utara via Tempel dan jalur timur via Prambanan,"  ucapnya Rabu (18/3).
 
Ia memprediksi puncak arus kedatangan terjadi pada H-5 hingga H-3 Lebaran, sementara puncak aktivitas wisata diperkirakan berlangsung pada 22 Maret 2026, atau H+2 Lebaran.
 
 
Di balik potensi lonjakan tersebut, Destha mengingatkan pentingnya perhatian terhadap dampak lingkungan. Salah satunya adalah persoalan sampah yang kerap muncul saat kunjungan wisata membludak.
 
"Jangan sampai euforia ini meninggalkan masalah yang mencemari citra Jogja. Penting diperhatikan dampak ledakan jumlah pengunjung ini. Kita jaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian," pintanya.
 
Secara garis besar, ia menilai bahwa DIY tetap menjadi magnet wisata karena kombinasi faktor aksesibilitas, harga yang relatif terjangkau, serta nilai emosional yang kuat bagi para perantau.
"Libur Lebaran tentu menjadi salah satu momen untuk bernostalgia," terangnya.
 
 
Sejumlah destinasi populer seperti kawasan Malioboro, Titik Nol Kilometer, Tugu, Keraton, Tamansari hingga wilayah pantai di Bantul diperkirakan tetap menjadi tujuan utama wisatawan. Selain itu, kawasan Gunungkidul dengan daya tarik wisata alam dan spot instagrammable juga diprediksi semakin diminati.
 
Tak hanya destinasi konvensional, desa wisata dan kampung wisata di berbagai wilayah DIY juga berpotensi akan mengalami peningkatan kunjungan. "Begitu pula dengan kampung wisata, homestay, juga desa wisata," paparnya.
 
Meski jumlah kunjungan diperkirakan meningkat, Destha menilai perilaku belanja wisatawan cenderung lebih selektif. Ia melihat adanya indikasi penurunan daya beli yang membuat wisatawan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
 
"Intinya, wisatawan tampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja, meski ada juga beberapa yang tetap royal untuk kuliner, serta membeli oleh-oleh," ungkapnya.
 
 
Fenomena tersebut juga tercermin dari pengalaman seorang pemudik sekaligus perantau asal Tangerang, Nadya Harini, yang baru pertama kali mudik ke DIY bersama suaminya yang merupakan warga asli Jogja. Secara pribadi, Nadya mengaku lebih tertarik mengunjungi destinasi yang terjangkau dan tidak terlalu menguras biaya selama libur Lebaran kali ini.
 
"Paling ke tempat-tempat yang terkenal dan dekat dulu seperti Malioboro. Tapi tidak terlalu banyak belanja, lebih ke menikmati suasana saja," katanya. (iza)
 
 
 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#wisatan #universitas gadjah mada #daya beli #Pusat Studi Pariwisata #libur panjang Idul fitri #Wisatawan