JOGJA - Polresta Jogja siapkan skema keamanan ganda untuk mengantisipasi perbedaan jatuhnya hari raya Idul Fitiri tahun ini. Sebanyak 700 personel disiagakan untuk memaksimalkan penjagaan di wilayah hukum Polresta Jogja.
"Kami sudah mendata, tentunya dari masyarakat Muhammadiyah yang akan melaksanakan takbiran lebih dulu sudah kita siapkan pengamanannya. Termasuk nanti pengamanan malam takbir untuk yang mengikuti versi pemerintah juga akan kita laksanakan tentunya," ujar Kaporesta Jogja Kombes Pol Eva Guna Pandia saat dikonfirmasi, Senin (16/3/2026).
Selain menyiapkan skema pengamanan ganda, pihaknya juga akan memberlakukan penyekatan kendaraan di kawasan perbatasan kota.
"Khususnya kendaraan yang dari luar kota mungkin akan kami sekat nanti, sehingga kami fokus melaksanakan pengamanan malam takbir khususnya di dalam kota," bebernya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat agar selama perayaan takbiran tetap menjaga ketertiban umum, terutama dalam tertib berlalu lintas. Sebab, itu prosesi takbir merupakan bentuk ibadah.
"Ini merupakan hari kemenangan setelah melewati ibadah bulan puasa," tuturnya.
Walaupun tidak ada larangan, namun masyarakar diimbau agar tidak menggunakan sound atau pemgeras suara yang berlenihan.
"Kami memberikan imbauan kepada masyarakat agar menggunakan sound seperlunya saja. Terkait petasan juga, kemarin Bapak Wali Kota sudah memberikan edaran bahwa dilarang untuk menggunakan mercon atau petasan," jelasnya.
Selanjutnya, berkaitan dengan keterbatasan lahan parkir selama libur Lebaran, Polresta Jogja bersama Dishub Kota Jogja menyediakan layanan portal informasi tempat parkir berbasis daring melalui situs web satlantasjogja.info.
Laman tersebut menampilkan informasi kapasitas tampung kendaraan yang masih tersedia secara rinci, baik slot untuk bus, slot untuk mobil, dan slot untuk sepeda motor.
"Kami menyadari, salah satu kendala di Kota Jogja adalah minimnya lahan parkir. Sistem itu nanti bisa diinput melalui QR Code parkir," jelasnya.
Ia memprediksi kepadatan wisatawan terjadi pada hari kedua Lebaran (H+1). Pola tersebut sering terjadi selama periode libur Lebaran.
"Kemungkinan nanti H+1, ya. H+1 masyarakat mungkin mulai padat dari pagi sampai siang, sorenya mungkin mereka bergeser ke Gunungkidul atau Parangtritis, lalu malamnya nanti akan kembali lagi ke Malioboro. Biasanya polanya seperti itu," terangnya.
Sebanyak 700 personel kepolisian telah disiagakan selama periode libur Lebaran. Rekayasa lalu lintas akan dilakukan secara situasional dengan melihat kondisi di lapangan.
"Kami akan melihat langkah-langkah terbaik dan akan kita koordinasikan dengan instansi terkait, khususnya dari Dishub tentunya," jelasnya. (oso)